Senin, 28 November 2016

ilusi kenyataan dan perasaan

Illios, kota metropolitan yang sangat ramai dan sibuk. Semua orang ingin tinggal di kota ini. Namun, mereka tidak tahu kenyataannya. Aku bekerja di dalam sebuah kantor. Kantor yang bisa dibilang cukup besar. Aku tidak betah disini. “BOOM!” Suara ledakan bom besar terdengar dari ruanganku. Semua alarm pun menyala. Suara hentakan kaki orang berlarian pun terdengar. Semua orang panik. Aku pun berusaha untuk melindungi diri dengan mengumpat di bawah meja kantorku. Setelah beberapa menit, suasana menjadi sangat sunyi. Ya, aku bisa mendengar suara sirine mobil polisi di bawah. Namun, tidak terdengar suara orang satu pun. Aku pun memberanikan diri untuk ke luar dari ruangan. Tidak ada siapa-siapa. Ini sangat aneh. Aku pun mendengar suara orang sedang berteriak. Seperti sedang marah. Aku pun pergi ke arah suara tersebut. Dari ujung lorong aku bisa melihat banyak orang tergeletak. Tertidur dengan lelap. Mereka adalah rekan kerjaku. “APA-APAAN INI?” ucapku. Terlihat seperti ada yang menjaga mereka. Laki-laki menggunakan jas hitam yang sudah sangat kusam, dengan sebuah senjata di punggungnya. “Apakah dia teroris yang menyerang kantor kami? Ah, ini tidak penting. lebih baik aku fokus menyelamatkan para sandera.” ucapku. Aku pun menyelinap ke belakang sang teroris. Disini cukup berisik, dia tidak akan mendengarku. Aku pun berdiri tepat di belakang teroris. Dan dengan sebuah besi bekas reruntuhan, aku hantamkan ke kepalanya hingga dia tak sadarkan diri. “Aneh, hanya satu orang? ini tidak mungkin.” pikirku. Sesaat setelah memikirkan hal itu, “BANG!” sebuah peluru menembus kakiku. “AAAAHHH” teriakku kesakitan. Karena pendarahan yang lumayan parah, aku pun mulai tak sadarkan diri. Aku mulai sadarkan diri. Aku di sebuah ruangan. Semuanya putih. Seorang perempuan berdiri di hadapanku, menatapku dengan rasa ingin tahu. “Apa maksudmu menyelamatkan orang-orang di gedung itu?” tanyanya. Aku mencoba menjawab, namun tidak sepotong kata pun bisa keluar dari mulutku. “Ahahaha. Sudah kuduga.” katanya dengan nada bercanda. Dia pun tersenyum kepadaku. “Kalau begitu, kamu balik deh, waktumu disini sudah habis. Illios? kota itu tidak pernah ada. Anggap saja ini sebagai sebuah mimpi buruk.” katanya. Semuanya berubah gelap. Wanita itu pergi dengan senyuman yang tak akan pernah aku lupakan. Semuanya gelap. Hitam. Perlahan pun aku mulai tidak sadarkan diri. Aku pun terbangun di rumahku. 8:30. “Sial, aku telat untuk kerja!” aku pun bersiap untuk pergi. Seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Aku pun menaiki bus. Dan di dalam aku melihat seseorang. Seseorang yang sudah tidak asing lagi di mataku. Ya, wanita di kejadian kemarin. Apakah kejadian itu benar-benar terjadi? Aku pun duduk di samping wanita itu. “Umm permisi mbak, kita pernah ketemu ya sebelumnya?” tanyaku dengan sopan. “siapa ya?” balasnya. Sekali lagi, dia melontarkan senyumannya kepadaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar