Senin, 28 November 2016

pahlawan kampung


“Mengapa tidak belajar?” Tanya Ibu kepada Rofa. “Bentar, lagi asyik nonton nih” jawab Rofa sambil asyik melihat televisi. Ya Rofa adalah anak yang cukup pemalas, hari harinya hanya bermain dan menonton televisi. Rofa berlari sambil menghirup udara segar di desanya itu, ya desa itu memang jarang terlewati kendaraan.
“Hei sedang apa kalian?” ternyata Rofa sudah sampai di lapangan. Teman teman Rofa terdiam karena sedang asyik membuat layangan. “AAAAA” ada sebuah teriakan dari sebuah rumah berwarna hijau, Ternyata itu adalah rumah teman Rofa yang bernama Rio. Mereka berlari ke arah rumah itu “ada apa bun?”. “Ada kucing mengambil ayam goreng yang bunda buatkan”. Memang kampung tersebut banyak sekali binatang yang suka mencuri makanan. Teman teman Rofa tidak terlalu menghiraukan dan kembali ke lapangan. Namun Rofa penasaran dan mengikuti kucing itu.
Ia mengikutinya hingga memasuki hutan, hutan tersebut sangat gelap. Tiba tiba dia sampai di sebuah gua, kucing itu memasuki gua tersebut. Dengan sedikit takut, Rofa memasuki gua tersebut. Ternyata banyak sekali binatang yang keluar masuk gua tersebut, Membuat Rofa semakin penasaran. Akhirnya dia melihat seorang lelaki tua gendut yang menghipnotis dan menyuruh binatang mencuri makanan dari kampungnya. Dia ingin melawan namun takut. Akhirnya dia memilih ke luar dari gua tersebut, Awalnya dia ingin memberi tau Teman temannya namun ternyata hari sudah mulai gelap. Dia pun pulang dan akan memberi tau teman temannya esok hari.
Esok pun tiba, Seperti biasa dia mandi, Sarapan dan sekolah. Sepulang sekolah dia menyuruh teman temannya berkumpul di lapangan. Mereka pun kumpul di lapangan, “ada apa Rofa” tanya Akbar sambil mengusap ngusap kucing. Akhirnya Rofa memberi tahu semua yang ia lihat, Namun teman temannya tidak ada yang percaya. “Begini saja, Kalian pulang dan bawa katapel dengan batu, Dan kita kumpul lagi disini” ucap Rofa. Akhirnya teman temannya mengiyakan permintaan rofa.
Rofa pun pulang dan mencari katapelnya. “Untuk apa katapel itu?”. Tanya Ibu kepada Rofa. “Untuk main Bu” jawab Rofa. Sang ibu pun tidak mengizinkan karena menurutnya katapel dan batu itu cukup berbahaya. Rofa pun terdiam dan tak tau akan melakukan apa. Tiba tiba sang Ayah yang sedari tadi mendengarkan sambil membaca koran, Berkata “sudahlah Rofa kan anak laki laki izinkan saja dia”. Sang ibu yang awalnya tidak mengizinkan akhirnya mengizinkan. Rofa pun cepat cepat ke lapangan karena takut teman temannya menunggu. Ternyata benar teman temannya sudah menunggu. “Kukira kau berbohong dan kabur” ucap Fathan dengan nada sedikit kesal. “Mana mungkin aku berbohong, Sudah cepat ikuti aku”. Mereka pun berjalan memasuki hutan. Mereka akhirnya sampai dia depan gua tersebut, Semakin banyak binatang yang keluar masuk gua. Akhirnya teman temannya mulai percaya. Mereka memasuki gua. Mereka pun membuat rencana untuk menangkap lelaki tua tersebut. Rencana mereka pun gagal, Mereka akhirnya bersembunyi di balik batu besar. “Rencana kita selanjutnya apa?” Tanya Akbar kepada Rofa.
Belum sempat menjawab tiba tiba ada seorang lelaki mendekati mereka. Mereka kira itu sang lelaki tua, Namun ternyata itu adalah seorang lelaki tampan lengkap dengan pedang dan perisai.
“Hei apa yang kalian lakukan disini” bisik sang lelaki tampan. “Kami ingin menangkap lelaki tua yang menghipnotis binatang” jawab Rio.
Ternyata setelah berbicara lebih lanjut, Sang lelaki adalah seorang pangeran dari sebuah kerajaan. Dia juga ingin menangkap lelaki tua gendut yang teryata seorang penyihir, Yang mencuri ilmu itu dari Pamannya. Dia diutus oleh Ayahnya untuk menangkap sang penyihir. Mereka pun bekerja sama untuk menangkapnya.
Akhirnya sang penyihir ditangkap dan diikat di pohon dekat gua. “Panggilkan seluruh penduduk kampung agar mereka tahu siapa yang mengambil makanan mereka”. Rofa, Rio, Fathan dan akbar pun memanggil seluruh penduduk. “Ya, Seperti yang kalian lihat, Dialah yang telah mencuri makanan dari kampung Kalian, namun kalian tidak usah menghiraukannya dia sudah ditangkap dan akan dikurung di kerajaanku. Atas nama Kerajaan Sihir saya meminta maaf” ucap sang Pangeran. “Dan jika kalian ingin berterima kasih, Berterima kasih lah kepada anak anak ini, Karena merekalah yang telah membantu saya menangkap sang penyihir”. Akhirnya penduduk kampung berterima kasih kepada Rofa dan temannya. Sang Ibu bangga, Karena dibalik sifat pemalas anaknya ada juga sifat kepahlawanannya. Akhirnya Rofa dan temannya disebut sebagai PAHLAWAN KAMPUNG.

perjuangan sang semut

Namaku Joe si semut pemberani. Semut semut membuat sebuah kelompok dan mereka akan berperang dengan kelompok lain untuk membuat suatu daerah kekuasaan. Mungkin kelompok kami bisa dibilang kelompok terlemah, karena kami tidak memiliki satu pun daerah kekuasaan.
Saat itu kami sedang tidur karena sudah larut malam, namun tiba tiba ketua kami berteriak dan meyuruh kami untuk merebut daerah kekuasaan dari kelompok Azza. “Mungkin jika kita merebut pada malam hari kita bisa menang” ucap ketua kami dengan penuh semangat. Nama kelompok kami adalah kelompok Sin. Nama ketua kami adalah Dr Garko.
Semua semut sudah bersiap untuk berperang, kami pun mulai menyerang. Perang pun selesai, seperti biasa kelompok kami kalah. Namun yang lebih menyedihkan adalah ketua kami yaitu Dr Garko meninggal dunia. Kami pun beberapa hari tanpa ketua namun akhirnya kami mencari ketua baru. Awalnya anak Dr Garko yaitu Lars akan menjadi ketua namun dia menolak karena dia rasa dia tidak cocok menjadi ketua. Lalu Kami menunjuk Gora si semut cerdik untuk menjadi ketua namun tidak jadi karena Gora sudah terlalu tua. Akhirnya aku pun ditunjuk menjadi ketua dengan penuh percaya dari aku berkata “Baik mulai dari sekarang aku ketua dari kelompok ini”.
Hari pun mulai gelap seperti biasa semua semut berkumpul untuk tidur. Sebelum tidur aku mencari kubangan untuk minum namun tiba tiba aku bertemu dua semut yang sudah sangaat tua. “Dunia semut butuh perdamaian” ucap semut ke satu. “Kami percaya kau bisa membuat semua damai” ucap semut kedua. Aku bingung dan hendak bertanya, namun sebelum aku mengeluarkan suara mereka berdua batuk keras dan meninggal dunia. Akhirnya aku memiliki tekad untuk membuat dunia semut menjadi damai.
Keesokan harinya aku berpidato dan membicarakan sebuah kedamaian. Semua semut menolak, aku pun dikeluarkan dari kelompok. Namun ternyata beberapa semut setuju denganku dan membantuku untuk mendamaikan dunia semut.
Kami berjalan sangat jauh dan tiba tiba seekor belalang menyerang kami. Karena sudah biasa berperang sang belalang pun kami lumpuhkan. Sang belalang berkata “sebenernya aku tidak ingin menyerang kalian, namun aku kesal kepada semut yang selalu berperang. Aku sangat ingin kedamaian”. Akhirnya dia menjadi pengikutku dan kami dibawa terbang oleh sang belalang. Namun bukannya pergi untuk mendamaikan dunia semut dia malah membawa kami ke sarangnya yang penuh dengan belalang lainnya. Kami sudah pasrah dengan semua ini, tiba tiba banyak sekali semut yang datang. Mereka akhirnya menangkap semua belalang. Ternyata mereka adalah kelompokku dulu yaitu kelompok Sin.
“Kami salah telah mengeluarkanmu. Ternyata kau benar dunia semut butuh perdamaian”. Akhirnya kami bersama sama mencari perdamaian.
Ternyata semua semut dalam kelompok lain berpikiran sama dengan pikiranku. Namun mereka takut untuk berkata “perdamaian” jadi mereka tidak pernah mencari perdamaian. Akhirnya semua semut berdamai. Dan sejak saat itulah aku dibuatkan patung lengkap dengan tulisan PERJUANGAN SEMUT dalam mencari perdamaian.
Tamat

monic


“Monic, kau diadopsi!” teriak Rara dari ambang pintu.
Kata-kata itu seperti menyihirku. “Jangan diam! Cepat temui orangtua barumu!” kata Rara riang. Aku mengangguk.
Aku berlari menemui orangtua baruku di ruang tamu. “Itu dia!” kata Bunda Ana ibuku di panti, pada orangtua baruku. Ibu dan ayah baruku berlari dan memelukku hangat. Kehangatan ini… sudah lama aku tak merasakannya.
“Ayo pulang!” ajak ayah baruku ramah. Aku mengangguk mantap dan segera membereskan barang-barangku. Bunda Ana dan ibu baruku juga membantuku. Aku berpamitan pada teman-teman di panti asuhan.
“Monic, ternyata kau sependiam ini. Tapi, tak apa. Kita tetap akan jadi keluarga yang harmonis! Jangan pernah sungkan meminta apapun dari kami!” kata ibu dalam mobil.
“Besok kamu masuk sekolah, itu pun kalau kamu mau. Kami mendaftarkanmu ke SMP Gionoka yang terkenal itu. Agak jauh dari rumah, memang. Tapi itu salah satu sekolah terbaik disini. Kau mau kan sekolah disana?” tanya ayah. Aku mulai berpikir, SMP Gionoka? Aku bahkan tak pernah berpikir menginjakkan selangkah kaki disana. Dari dulu SMP itu sangat bagus, namun biayanya tetap sepadan. Senangnya aku bisa masuk SMP begitu! Aku pun mengangguk. “Baguslah, ayah kira kau akan menolaknya.”
“Kita sampai,” kata ayah sambil mengerem mobil. Kami berhenti di sebuah rumah modern tapi menawan. Ayah membuka pintu mobil untukku, “Selamat datang di rumah!”
Aku dipersilahkan masuk dan segera menata barang-barang di rumah ini.
Beberapa bulan berlalu. Aku lalui hari-hariku seperti biasa, kadang pula ada perasaan ingin kembali ke panti.
“Monic, bisa kamu lepaskan boneka itu? Kamu sudah SMP tapi kamu selalu membawa boneka kemana saja bahkan ke sekolah,” untuk berpuluh-puluh kalinya aku mendengar ocehan ibuku.
“Aku akan kesepian kalau jauh darinya.”
Plak, beberapa surat mendarat di meja belajarku, “Sekolah mengirimimu surat yang sama,” kata ayah.
“Monic, pikirkan lagi! Sekolah lebih penting dari sekedar boneka!”
“Aku sudah bilang, dia bukan sekedar boneka! Dia temanku!”
“Lebih baik kamu tidur!” kata ibu lalu mencium pipiku dan ke luar bersama ayah.
Aku mengangkat Milly, boneka beruang pinkku. “Milly! Kau mau lakukan sesuatu untukku? Kesenanganku disini sudah habis. Huft! Aku kangen taman-teman di panti! Kau juga kan? Ah sudahlah aku mau tidur. Malam Milly!” Aku pun segera berbaring dan tertidur.
“Monic ayo bangun!” panggil ibu. “Monic cepat bangun!” “Monic!”
“Iya!” jawabku. Kenapa hari ini ibu berisik lagi? Pasti karena kerjaan! Pasti tak ada yang mengantarku sekolah dan itu artinya aku harus naik taksi lagi. Batinku.
Aku ke luar dari kamarku dan aku lihat kedua orangtuaku sudah siap berangkat.
“Maaf ya hari Minggu, tapi ibu membangunkanmu sepagi ini!” kata ibu. Aku hanya mengangguk dengan mata yang sipit. Oiya sekarang Minggu! Aku lupa ya! Pikirku.
“Monic, setelah ini kamu kesini!” kata ibu memberiku secarik kertas. Apartemen? Apartemen siapa? Pikirku.
“Itu apartemenmu untuk sementara waktu!” kata ayah dan memberikan sebuah kunci.
“Kemarin hari terakhirmu di SMP Gionoka! Mulai besok kamu homeschooling di apartemen!” kata ibu dan tersenyum, “Itu yang kamu mau kan? Lagipula kami ada urusan ke luar kota jadi tak bisa mencarikanmu sekolah baru. Maaf ya. Kami berangkat dulu!” ayah dan ibu meninggalkanku.
Yah… sekarang hari Minggu! Aku malas ke luar rumah! Kenapa juga harus homeschooling di apartemen kalau bisa di rumah? Tapi biarlah jika begini jadinya!
Aku pun segera bersiap-siap dan menuju tempat yang tertulis di kertas.
Cklek! Aku membuka pintu apartemen.
“Akhirnya sampai juga!” Aku menjatuhkan diri ke kasur. Perjalanannya lama sekali.
“Milly terima kasih kau melakukannya lagi untukku! Orangtuaku kali ini terlalu mengatur-ngatur. Aku ingin orangtua yang lebih baik dan kehidupan yang lebih tenang!”
“Huuuft… aku juga lelah disana. SMP Gionoka tampak luar lebih baik dari dalamnya. Mereka ternyata hanya memuja nama. Orang luar pasti tak akan tau sisi dalam sekolah itu!”
“Karena aku sudah bekerja keras mengatur semuanya dan membuatmu senang, sekarang giliran kau yang membuatku senang! Ayo kembali ke panti! Monic!” kata Milly.
“Haaah!!!! Lalu buat apa kita jauh-jauh kesini?!” aku kesal dan melempar Milly ke lantai.
“Aduuuu!! Monic mau aku lempar juga?”
“Jangan!!!” teriakku. “Nanti malah kau lempar ke luar jendela lantai 7 ini”
“Hehehe… kau tau ya!”
Semua orang tak akan percaya dan tak akan mau percaya bahwa Milly bukan sekedar boneka. Dia adalah temanku. Temanku sejak lahir. Dia adalah sebuah roh penjaga yang dimasukkan ke dalam tubuh boneka oleh orangtua kandungku untuk menjagaku dan membuatku senang. Dia bisa mengubah keadaan dengan caranya yang misterius.

hysteria

Ayah kau telah berhasil mengubahku sekarang derita adalah bahagiaku dan bahagiaku adalah derita. Terimakasih untuk itu, kau benar selama hidup aku akan selalu mendapat cobaan dan cobaan selalu mendatangkan derita. Kau selalu menyiksaku dengan tang yang kau gunakan untuk mencabut gigiku, bor yang kau gunakan untuk melubangi tubuhku, pisau yang kau sayatkan pada tubuhku, dan alat-alat menakjubkan lainnya yang kau dedikasikan untukku.
Aku sangat sayang padamu namun aku butuh derita yang lebih untuk bahagia. Alat-alatmu tak lagi memberiku derita aku sudah terbiasa dengannya. Aku sangat sayang padamu tapi aku lebih membutuhkan derita untuk bahagia maka dari itu aku membunuhmu sekarang agar aku dapat derita. Ayah lihatlah ini air mata yang mengalir di mataku kehilanganmu benar-benar membuat hatiku sakit. Oops! Maaf ayah aku lupa kau tidak bisa melihat lagi aku menusuk kedua matamu dengan jariku, baiklah coba kau rasakan air mataku dengan jari terakhirmu bukankah air mata ini begitu indah. Aku akan memakanmu sebagai rasa terimakasihku kau akan hidup di dalam diriku.
Sekarang aku akan berpetualang mencari deritaku sendiri semoga kau menyaksikannya dengan kedua mataku. Apa ini ayah? Dunia luar begitu berbeda dengan di dalam rumah tak ada tang disini, tak ada bor disini, tak ada pisau disini bagaimana bisa aku mendapatkan derita kalau begini. Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan? Ooohhh… maafkan aku ayah aku lupa yang kau ajarkan. Bahkan jika tak ada alat untuk membuatku menderita aku dapat melakukannya tanpa alat. Baiklah aku akan mulai membenturkan kepalaku pada tiang itu walaupun tak sesakit saat kehilanganmu hal itu cukup untuk membuatku menderita sampai aku menemukan derita yang lebih menyakitkan dari kehilanganmu.
“Eh? Apa ini? Kenapa kalian menghalangiku? Aku ingin membenturkan kepalaku ke tiang? Lepaskan! Lepaskan! Aku butuh derita Lepaskan…!”
“Apa ini? kepalaku terasa sangat sakit seperti di pukul dari belakang. Dimana aku? Kenapa aku diikat? Lepaskan! Lepaskan!”
“Hai kau sudah sadar?”
“Kau siapa tolong lepaskan aku, aku butuh derita”
“Apa yang kau bicarakan? kenapa kau butuh derita? Kau di rumah sakit jiwa sekarang dan aku sedang merawatmu. Tadi kau dibawa oleh seseorang dalam keadaan pingsan”
“Apa yang kau lakukan? Jangan rawat aku jangan rawat aku! Pergi sana! Pe… Pe…!”
“Dok! Dok! Tolong pasien ini kejang-kejang”
Ada apa ini ayah? Apakah tubuhku rusak? Mereka bergerak sendiri tanpa perintah dariku. Jantungku berdetak cepat karena perawat itu menyentuh keningku dan semua jadi kacau. Apakah ini yang disebut bahagia? Aku sangat senang hal ini membuatku sangat kesal. kenapa wanita itu malah merawatku dan merusak tubuhku?. Ayah ada seorang laki-laki datang dari balik pintu dengan sebuah suntikan yang dipegangnya sepertinya dia akan menyelamatkanku.
“Hei kau sudah bangun rupanya tepat sekali sekarang saatnya kamu makan. Karena tanganmu masih terikat biar aku suapi”
“Ada apa denganmu kenapa kau baik padaku? Pergi sana yang aku butuh adalah derita”
“Ngomong apa sih kamu? Akukan perawat ya sudah tugasku untuk merawat pasien sepertimu walaupun aku masih baru tapi aku bakal berusaha buat ngerawat kamu”
“Tolong jangan rawat aku. kamu buat aku bahagia aku gak mau kehilangan kendali tubuhku lagi. Tolong kamu pergi dari sini”
“Kamu jujur banget sih. Masasih aku bikin kamu bahagia? Nih Aaa…”
“Tolong jangan! aku gak mau makan, gini aja. tolong kamu pukul piring yang kamu pegang ke kepalaku sekeras mungkin”
“Gak mungkin lah aku ngelakuin itu kan udah aku bilang tugasku merawat kamu. Kamu harus makan biar bisa minum obat”
“Tolong jangan rawat aku. Kalau kamu gak bisa pukul piring itu ke kepalaku kamu pergi aja dari sini”
“kamu mau aku pergi tapi aku gak mau pergi sampai kamu minum obat. Eeemmm… gini aja kamu makan dulu tiga suap terus kamu minum obatnya abis itu aku pergi. Kalau gak gitu aku gak mau pergi aku mau disini sampai kamu minum obat”
“Ya udah deh kalau gitu cepetan aja”
Ayah teorimu salah dalam hidup tidak selamanya derita yang kudapat. Perawat itu selalu datang padaku tiga kali tiap harinya membuatku bahagia dan sedikit kejang. Aku bahkan berkali-kali mengusirnya tapi dia selalu datang lagi dan lagi. Aku selalu meminta derita kepadanya tapi dia tak pernah memberikannya terakhir kali aku mencuri garpu dan menusukkannya ke tanganku itu membuatku menderita karena sakit tapi itu hanya sesaat setelahnya bahagia yang kudapat malah lebih besar. Perawat itu tak henti-hentinya berada di sampingku ia selalu menemaniku jika ada waktu hal itu membuatku bingung dan pikiranku menjadi kacau.
Aku sudah tak tahan lagi dengan perawat itu dia selalu membuatku bahagia aku akan melakukan sesuatu padanya ketika aku sudah terlepas dari ikatan ini. Tunggu dulu apa ini? Aku baru sadar kalau setiap kali dokter itu datang pipi perawat itu memerah dan terasa sakit di bagian atas perutku dan sakit itu bertambah ketika perawat itu bicara dengan dokter. Benar-benar rasa sakit yang sempurna apa ini aku tak pernah merasakannya. Apakah ini yang di sebut cemburu? Kau benar yah ternyata rasa cemburu memberikanku rasa sakit yang sempurna lebih dari rasa sakit yang kau berikan. Aku punya ide aku akan menyatukan perawat itu dengan dokter dengan begitu mungkin aku akan merasakan sakit yang sebenarnya.
Air mataku tak henti-hentinya mengalir seluruh tubuhku terasa sakit. Aku bahagia! Aku bahagia! Ini sangat sempurna. Hasil jerih payahku menyatukan perawat dan dokter hingga mereka menikah benar-benar terbayar lunas. Rasa sakit ini tak bisa digambarkan dengan kata-kata tapi bisa dilihat dari air mataku yang mengalir deras. Apakah kau merasakannya ayah? Aku benar-benar bahagia. Mungkin ini adalah puncak dari rasa sakit, derita yang sempurna.
Salah! ternyata aku salah total! derita yang sempurna bukanlah ketika perawat itu menikah tapi ketika dia memiliki anak. Lihat itu ayah mereka membawa anak perempuannya ke sini, lihat anak perempuan itu ia melambai ke arahku, Lihat itu anak perempuannya memiliki mata yang sama dengan ayahnya. Lihat itu! Lihat itu! Mereka sangat bahagia! Sakit sekali! Sakit sekallliii…! Ini terlalu sakit! Ini terlalu bahagia! Aku tak tahan! Tolong hentikan! Tolong hentikan! Aku tak tahan lagi! Aku harus mengakhirinya! Aku akan menyusulmu ayah.

hidup itu

Hidup itu ibarat ikan yang hidup di kolam. Ikan yang paling besar dan paling berwarnalah yang akan dilirik.
“Wah, Jessica itu perfect ya. Sudah cantik, pintar, jago main voli, ceria dan murah senyum! Gak ada cacatnya deh!”
“Iya! Dia bagaikan mawar di antara rumput berduri! Paling indah dan menawan!”
“Eh, tahu gosip terbaru? Jessica pacaran sama dia! Perfect banget ya, dia kan sekertaris OSIS, jago main biola, kapten klub tenis…”
Ikan kecil hanya akan menjadi penyemarak kolam, hanya akan dilirik jika berada di sekeliling ikan besar tersebut.
“Wah Vanessa, nilaimu lebih tinggi dari Jessica! Sela..”
“Hei lihat! Vanessa dapat nilai 98! Sedikit lagi lho Jess..”
“Oh tapi ada yang mendapat 100 lho! Itu Vanessa!”
“Oh? Si kutu buku? Gak heran kacamatanya tambah tebal”
“Orang seperti dia gak ada yang bisa dibanggakan selain otak encer!”
Ketika pembagian makanan pun, hanya ikan besarlah yang menguasai. Ikan kecil akan dipaksa pergi, dan berharap tuannya akan melempar makanan ke arahnya.
“Apa kau tahu? Sebanarnya Vanessa lho yang dipilih menjadi perwakilan sekolah kita di kompetisi minggu lalu!”
“Terus kenapa malah jadi Jessica? Kan lebih jago Vanessa dalam bermain gitar”
“Nah itu dia masalahnya! Backing Jessica kan kuat, pasti karena pacarnya sekertaris OSIS!”
“Salah salah. Tahu kan fansclub Jessica? Katanya sih mereka yang mem-bully Vanessa sampai Vanessa gak mau ikut lagi!”
“Yang benar? Keterlaluan! Mereka pikir Jessica dewi yang jatuh dari surga apa? Sampai sebegitunya.”
“Aku tak mempersalahkan Jessica, hanya saja fansclub itu selalu membuat masalah! Kasihan kan Vanessa..”
Tapi apa sang tuan akan memberikannya? Jika iya pun apa benar sang ikan kecil yang akan memakannya, bukan ikan-ikan besar itu?
“Hei kutu buku! Masih belum menyerah ya?”
“Iya nih. Sudah kubilang penampilan lebih penting dari otak! Kau kan tak bisa berbicara di depan umum!”
“Iya, jangan terlalu banyak berharap deh! Jessica kan lebih baik darimu, dia pasti menang!”
Kertas pidato Vanessa dibuang ke tempat sampah dengan santainya. Mungkin mereka tidak tahu betapa berharapnya Vanessa pada lomba kali ini. Vanessa menunduk, tapi mendongak kembali karena rambut panjangnya yang dikepang ditarik.
“Orang sepertimu terlalu freak! Kami benci orang sepertimu”
Orang-orang yang tergabung dalam Jessica’s fansclub itu pergi sambil tertawa sinis nan menjijikan. Puas karena berhasil membully Vanessa untuk ke- ah sudah terlalu banyak untuk dihitung dan senang karena berhasil menyingkirkan sang freak –menurut mereka-.
Harusnya mereka bersyukur masih bisa tertawa dengan begitu puasnya. Mereka tidak menyadari senyuman Vanessa yang terasa dingin dan mengerikan..
Cukup sudah.
Tapi bagaimana kalau ikan kecil tersebut adalah ikan arwana? Cantik nan mematikan, predator yang memangsa ikan lainnya bahkan ikan sejenisnya.
“Akh!”
Vanessa menatap datar pemandangan di hadapannya. Dia menendang salah satu tubuh yang bergerak sedikit sampai akhirnya tidak bergerak lagi. Orang-orang yang selalu menganggap dirinya rendah kini sudah tiada, mati bahasa kasarnya meninggal bahasa halusnya.
“Sekali sampah, mau dipoles bagaimana pun tetaplah sampah.”
Vanessa melepas kacamata tebalnya, matanya memang minus tapi dia memakai lensa kotak. Penampilan serba rapinya berganti menjadi dandanan modis dengan aksen cukup seksi sehingga orang yang menggangap Vanessa cupu dan freak akan memotong lidahnya saking menyesalnya.
‘Persetan dengan taruhan itu!’
Vanessa berjalan malas sambil menyeret kapak berlumuran darahnya. Pikirannya melayang pada kejadian satu tahun yang lalu, dimana dia pertama kali menantang Vanessa menjadi seorang kutu buku. Jika dia tahan tidak melakukan apapun pada orang yang membully-nya selama 3 tahun, dia akan diterima kembali di rumah.
‘Apa-apaan dia? Ini sudah batasku! Apa dia..’
“Tak pernah memikirkan hal seperti ini akan terjadi?”
Seorang laki-laki berjalan mendekati Vanessa santai. Vanessa yang baru saja hendak menyerang siapa pun orang yang menyapanya, mengendurkan kesiagaannya tatkala matanya menatap wajah laki-laki tersebut. Laki-laki tersebut tersenyum, namun Vanessa tahu bahwa dia tak seramah yang semua orang pikirkan.
‘Pas sekali, baru mencacinya orangnya muncul.’
“Senior, tidakkah hadiahku yang paling bagus?”
Sangat kentara perkataan Vanessa dengan nada sinis. Namun bila didengarkan baik-baik terdapat sisipan penuh harap di dalamnya. Sang senior hanya berjalan mendekati salah satu korban –atau bahasa kasarnya sampah- itu dengan tenang.
“Kau tidak menghancurkan kepalanya.”
Satu kalimat yang dikenali sebagai suatu pujian. Sang senior bukan tipe orang yang suka memuji, itulah yang membuat Vanessa menghembuskan nafas lega dan malas.
“Pertaruhan kita batal, oke?”
“Terserah, aku juga sudah capek menyamar terus.”
Sang senior mengambil kapak dari tangan Vanessa lalu melemparnya. Dipeluknya Vanessa erat.
“Ada apa ini? Kau menjadi lebih melankolis dari sebelumnya.”
“Diam atau kutebas lehermu”
“Kau berani?”
Vanessa terdiam. Dia masih seperti dulu.
“Akan lebih baik jika aku yang membunuhmu lebih dulu.”
Atau tidak. Dia bahkan berani mengambil tindakan sekarang.
Tawa sang senior pecah, Vanessa hanya menatapnya kesal.
“Oh ayolah, aku sudah membolehkanmu pulang kok. Tapi bersihkan dirimu dulu, oke?”

cerita tak berujung

Pada suatu malam yang sunyi. Suasana sepi senyap di bumi. Tak ada sama sekali penerangan yang diterapkan. Di hutan yang gelap, hiduplah seorang manusia. Ia kerap disapa dengan sebutan “Hiroshima” Manusia setengah laki-laki dan perempuan berketurunan Jepang. Walau begitu, yang tampak hanyalah wajah berkulit sawo matang khas Indonesia. Tak usah dihiraukan, kini Ia sedang berjalan seorang diri di hutan tersebut. Hutan yang sangat terkenal… Terkenal keangkerannya. Hiroshima terlahir sebagai manusia berjenis kelamin laki-laki yang bersifat feminin. Maka dari itu, para makhluk yang hidup di hutan angker tersebut menjulukinya sebagai ‘Manusia Setengah Jenis Kelamin’ Hohoho, tampaknya itu lucu bagi sebagian orang.
Di hutan yang megah dan angker ini, terdapat beberapa makhluk yang ramah dan begitu pula sebaliknya. Tuan ular dan nyonya panda adalah sesosok makhluk yang ramah dengan Hiroshima. Mereka sering bermain air di sungai yang terdapat di tepi hutan. Sungai Lee Min Hoo namanya. Berbeda dengan Tuan Singa dan Tuan Bayang Bayang Monster. Mereka tak bekerja sama, namun entah kebetulan atau apa. Mereka mempunyai beberapa target yang tak bisa Saya sebutkan. Oh ya, Tuan Singa dan Tuan Bayang Bayang Monster mempunyai latar belakang yang berbeda. Mereka tak pernah bertemu sama sekali, dan saling tak tahu bahwa sama-sama mempunyai target.
“Heeyy… Apa kabar Ta?” teriak Hiroshima lhe-bhay menghampiri Tuan Ular yang bernama Santan dengan gaya khasnya. Berjalan dengan anggun di malam hari.
“Mama, Aku lelah tak usah kau ganggu Aku,” ternyata, Tuan Ular sedang mengantuk berat. Sedangkan nyonya panda, tertidur pulas di sebelah Tuan Ular.
“Hmm,” Hiroshima tampak berpikir keras,
“Bolehkah sehari saja Kau tak mengangguku, besok Kau bisa kemari, Mama Cantik,”
“Huuhh, ini pilihan yang berat. Baiklah jika begitu Tata sayang,”
“Sudahlah, Aku ini laki-laki, Kau itu banci. Tak usah lhe-bhay,”
Hiroshima yang sering dipanggiil dengan sebutan Mama itu, akhirnya dengan berat hati meninggalkan Santan dan Bambu (Tuan Panda). Saat berjalan dengan kesedihan yang mendalam, Hiroshima merasakan keganjilan. Keganjilan yang menurutnya tak biasa. Hiroshima menatap timur barat selatan utara. Tak ada seseorang yang ada, ataupun makhluk. Karena, Hiroshima manusia satu-satunya yang tersisa di hutan “The Kill” yang dibaca de-kil. Tak heran mengapa hutan itu agak sedikit jorok dan angker. Namanya saja dekil atau the-kill. Sebenarnya, banyak manusia yang ada di hutan ini. Namun, semuanya tewas menggenaskan karena makhluk yang menggenaskan pula. Seperti harimau, namun Ia telah tewas juga dimakan Tuan Singa.
Terdengar teriakan kencang dari belakang. Hiroshima mempercepat langkah dan segera berlari di antara gelap dan sunyinya malam. Namun, ternyata auman yang berasal dari Tuan Singa itu tak terdengar lagi. Hiroshima berkeringat dingin. Hiroshima menghela napas kencang dan lelah. Biasanya, jam ini Hiroshima sudah tertidur nyenyak. Namun, tidak dengan akhir-akhir ini. Ada keganjilan yang ada, begitu seterusnya mungkin saja. Itu pun hanya mungkin. Kini, bukan auman Tuan Singa yang terdengar. Melainkan suara-suara aneh bernada tinggi.
Hiroshima tersesat! Ia tak tau jalan menuju rumah Santan dan Bambu. Sahabat-sahabat satu-satunya. Ia telah berlari terlalu jauh. Sebagai manusia, Hiroshima telah kehausan dan kantuk pun menyerang. Sungai Lee Min Hoo terlihat dari kejauhan. Sungai berwarna keabu-abuan. Hiroshima segera melirik arlojinya, pukul 89.87. Ahh seharusnya dari pukul 80.00 Aku sudah tidur, gumam Hiroshima dalam hati. Hiroshima berlari menuju sungai angker itu. Ia meminum seember air darah abu-abu yang sedap sekali. Hmm, yummy…
Selang berapa waktu, dengan bantuan GPS yang ada di arloji ajaib Hiroshima, Ia telah sampai menuju rumahnya. Pondok coklat tua kecil berukuran 3×4 meter. Bayangkan betapa kecilnya pondok itu. Namun, lagi-lagi keganjilan itu muncul. Terasa ada makhluk halus mendekati Hiroshima. Karena Hiroshima tak mempunyai indra ke-enam. Ia tak bisa melihat makhluk itu. Arloji menuliskan sesuatu yang tentu saja dapat dibaca oleh Hiroshima.
“Arwah Monster?” gumam Hiroshima pelan. Ya, Arwah Monster itu adalah Bayang-Bayang Monster. Ia pasti merasuki Hiroshima. Karna, setiap Arwah atau Bayang-Bayang Monster mendekati sesosok makhluk. Makhluk itu secara pasti, pasti dirasukinya. Dan ternyata benar, jiwa Hiroshima telah diambil oleh Sang Arwah Monster.
Kini, Sang Arwah Monster telah berubah menjadi Monster berelemen tulisan dan tanah. Ia bisa menyerang apapun dengan teror tulisan yang pasti berhasil. Sama dengan Hiroshima, ya itu adalah kekuatan Hiroshima yang sebenarnya.
“Ahh, tolong Aku, di mana Hiroshima. KATAKAN!” selain tulisan, kekuatan Monster sebenarnya adalah tanah atau bisa dibilang gempa. Teriakan Santan menggema di seluruh hutan. Namun, tak ada yang dapat mendengarkannya karena di hutan hanya tersisa Santan dan Bambu. Santan dan Bambu kini telah mati. Dan saatnya Monster keluar dari hutan untuk menguasai bumi.
Semua makhluk hidup dan makhluk mati telah hancur berkeping-keping tak tersisa di bumi. Bumi kini telah hancur, dan hanyalah Monster yang tersisa sendirian. Lalu, Monster membangun bumi ke-dua. Semua tampak sama seperti bumi pertama, lebih tepatnya hutan angker itu. Lengkap dengan para makhluk hidup dan masih indah seperti dulu. Monster yang tak senang karena para makhluk di bumi kesal, Mereka ingin melawan Monster. Oh ya, makhluk yang ada di bumi ke-dua adalah makhluk ke-dua namanya (Sesuai nama masing-masing). Sama seperti Hiroshima, karena Ia telah mati dan bangkit kembali. Namanya kini adalah Hiroshima ke-dua dan selanjutnya.
Monster menghancurkan bumi ke-dua kembali dengan kekuatan teror tulisan dan kekuatan tanahnya. Semua makhluk hidup dan makhluk mati telah hancur berkeping-keping tak tersisa di bumi ke-dua. Bumi ke-dua kini telah hancur, dan sama seperti bumi pertama hanyalah Monster yang tersisa sendirian. Lalu, Monster membangun bumi ke-tiga. Semua tampak sama seperti bumi pertama dan kedua, lebih tepatnya hutan angker itu yang bernama “The Kill” Dan semua telah lengkap dengan para makhluk hidup dan masih indah seperti dulu. Monster yang tak senang karena para makhluk di bumi kesal. Mereka ingin melawan Monster, sebab Monster telah membunuh mereka. Mereka ingin membalas dendam atas kematian mereka di bumi pertama dan bumi ke-dua. Oh ya, makhluk yang ada di bumi ke-tiga adalah makhluk ke-tiga namanya (Sesuai nama masing-masing). Sama seperti Hiroshima, karena Ia telah mati dan bangkit kembali. Namanya kini adalah Hiroshima ke-tiga dan selanjutnya.
Peristiwa Monster dan bumi telah mendapati umur ke-… Terus berjalan, sampai kini pada tahun 7896. Yahh, peristiwa itu tak akan pernah berhenti sampai kapanpun. Itulah yang dinamakan cerita tak berujung. Maaf penulis tak langsung menuliskan topik. Oh ya, target Sang Tuan Singa Dan Arwah Monster atau Bayang Bayang Monster yang kini menjadi Monster adalah… Jreng… Jreng… Jreng… Ialah, menguasai bumi dan membunuh semua makhluk hidup serta makhluk mati yang ada di bumi. Dan kini, telah terbukti. Para pembaca tahu sendiri kan? Tahu apa? Itu lhoo pemenang perlombaan. Lho? Sudahlah jangan dihiraukan. So, and the winner is… Monster… Prok prok prok :v

telor ceplok

“Hai, bintik telur putih.”
“Iya, ada apa, bintik telur kuning?”
“Apa kau tahu bagaimana telur ceplok yang kita tinggali ini ‘termasak’ ?”
“Ya, ‘Ibu’ yang memasak kita kan? Kita ‘termasak’ di ‘Dapur Ibu’ ”
“Ibu? Ayolah, teori ‘Keibuan’ itu sudah kuno. Apa kau belum membaca penelitian ilmuwan bintik telur baru-baru ini?”
“Yang mana?”
“Bahwa telur ceplok ini tercipta dari ketiadaan. Nothing, then comes everything, bahwa sesungguhnya kita ‘termasak’ dari 1 telur saja. 1 Telur yang massanya terus bertambah, hingga meledak, dan terciptalah ‘Telur Ceplok’ yang kita tinggali. Putih telur, kuning telur, garam, merica, minyak, protein, lemak. Kita semua tercipta dari satu unsur yang sama, telur. Telur yang meledak.”
“Bagaimana kau bisa yakin? Mana buktinya?”
“Kau bisa baca sendiri di buku para ilmuwan! Ini adalah teori yang paling relevan! Kita hidup dengan sains, dan sains tidak pernah berbohong. ‘Teori Keibuan’ hanya teori yang dibuat oleh kita, ‘bintik telur’! Dulu kaum bintik telur masih sangat lemah, jadi kita berharap ada sesosok ‘Ibu’ yang ‘Maha Segalanya’, yang melindungi kita.
Ibu itu tidak ada, ia hanya sesosok makhluk yang kita ciptakan di benak kita, bukan sebaliknya!”
“Wah, kau begitu yakin.”
“Ya, aku selalu yakin dengan ilmu pengetahuan. Kita harus maju, Bintik Telur Putih. Kalau kita terus berkutat pada kepercayaan adanya Ibu, itu malah menghambat kita sendiri untuk maju.”
“Tunggu, ilmu pengetahuan?”
“..Ya”
“Yang kau maksud dengan ilmu pengetahuan, apakah cuma dengan menyalin apa yang ilmuwan bintik telur katakan?”
“… Apa maksudmu?”
“Maksudku, kau bisa berbicara seperti tadi itu hanya salinan dari apa yang mereka katakan, bukan?”
“Ya… Karena memang itu kebenarannya!”
“Apa kau sudah berpikir? Ikut serta berpikir?”
“Ya.. pastinya! Aku sudah berpikir, dan menyetujui tidak ada kesalahan dalam teori itu.”
“Well, aku rasa ada sesuatu yang mengganjal.”
“… Apa? Teori ini yang paling relevan dan terbaru!”
“Ya, ya, aku tahu. Tapi… Bagaimana telur itu bisa tidak stabil?”
“Ya… memang tidak stabil. Lalu meledak.”
“Kalaupun itu meledak, kita misalkan telur itu meledak 100 tahun yang lalu. Dari awal, PALING AWAL, telur itu sudah tidak stabil kan?”
“Ya.”
“Lalu kenapa telur itu tidak meledak 100 tahun sebelumnya? Atau 1000 tahun sebelumnya? Atau 10 abad sebelumnya? Kenapa saat itu, 100 tahun yang lalu yang kita asumsikan, baru meledak?”
“Maksudmu?”
“Maksudku, lihatlah sekitarmu. Minyak di dunia ini tidak terlalu banyak. Garam-garam bisa tersebar di seluruh tempat di telur ceplok secara merata. Begitu juga dengan merica. Lalu suhu disini juga panas, membuat kita tidak cepat membusuk.”
“Hey, keseimbangan yang kau bicarakan itu tercipta bersama ledakan si telur!”
“Bila telur ini tercipta atas ketidaksengajaan, bagaimana semua keseimbangan bisa tercipta? Pasti ada ‘Sang Juru Masak’ yang menyebarkan garam dan merica, menaikkan suhu panci, dan membuat kita hidup. Percaya pada keseimbangan, tapi tidak memercayai adanya ‘Ibu’, menurutku hal konyol.”
“Apa maksudmu sih?!”
“Telur tadi. Telur yang meledak. Tidak mungkin telur itu awalnya tidak stabil, karena ia bisa meledak kapan saja. Pasti telur itu awalnya stabil. Lalu ‘Ibu’-lah yang membuatnya tidak stabil. Ia yang ‘menceplokkan’ telur itu, lalu menyebarkan garam dan merica. Sehingga terciptalah ‘telur ceplok’.”
“… Itu tidak masuk akal.”
“Kenapa tidak? Karena aku tidak memiliki gelar di bidang sains?”
“Pemikiranmu aneh! Mana ada ‘Ibu’! Mana ada ‘Sang Juru Masak’! Otakmu telah tercemar, kau tidak bisa menerima ilmu pengetahuan lagi. Kau harus membuka pikiranmu, Bintik Telur Putih!”
Sementara mereka berdebat, Ibu meletakkan telur ceplok tersebut ke piring, dan memberikannya ke anaknya.

bunga lili putih

Mary menangis tersedu-sedu di atas kasurnya. Sejak tiga puluh menit yang lalu, air matanya tidak berhenti membasahi pipi anak berusia sembilan tahun yang polos ini. Rambut panjangnya yang acak-acakan berwarna coklat tua menutupi sebagian wajah besarnya. Jaket tebalnya yang berwarna hijau tua menjadi lap air matanya.
Kematian sang ibunda membuat hatinya hancur berkeping-keping. Dia tidak tahan tinggal di dalam mansion keluarganya bersama dengan ibu barunya yang merupakan seorang pel*cur, seorang pelayan perempuan yang sama-sama pel*cur, dan ayahnya yang mes*m. Dia masih teringat dengan jelas bagaimana ibunya menderita karena kanker darah, ayahnya sama sekali tidak mau membiayai rumah sakit demi istrinya sendiri. Ketika kanker ibu Mary semakin parah, ayahnya memukulinya habis-habisan. Tidak hanya tubuh dalamnya yang perlahan hancur, tubuh luarnya pun juga. Bahkan sang ibu mengalami patah tulang kaki kanan dan tulang rusuk.
Tiap hari, Mary dipaksa untuk melihat ayahnya berselingkuh dengan dua wanita brengsek yang ada di rumahnya. Dua tidak cukup, bahkan pernah membawa tiga wanita lain dari pel*curan yang berbeda hampir tiap hari. Mary ingin muntah, menangis, marah, dan ingin bunuh diri karena hidup di dalam keluarga yang rusak.
Setelah Mary puas menangis, dia melihat ke arah boneka pinguin pemberian pamannya. Mary menganggap pamannya sebagai ayah barunya. Tiap bulan, pamannya pasti datang berkunjung untuk menemui keponakannya yang tahun ini menginjak usia sembilan tahun. Tidak hanya sekedar berkunjung, tetapi memberikannya hadiah. Sang paman menjadi duda, karena dia meninggal lima hari sebelum kematian ibu Mary.
Mary perlahan turun dari atas kasurnya yang tinggi dan berjalan ke arah pintu kamarnya. Ketika Mary memutar gagang pintunya, pintu tidak terbuka. Mary menghela napas, lagi-lagi dikunci di dalam kamarnya yang kecil. Entah sampai kapan Mary harus menghadapi masalahnya. Sewaktu ibunya masih hidup, Mary sudah dikeluarkan dari sekolah karena sebuah kesalahpahaman fatal. Dia tidak mendapatkan pendidikan lagi.
Mary kembali berbaring di atas kasurnya dan memejamkan matanya. Dia mencoba untuk melupakan semuanya tentang kehidupannya saat kini. Rasanya tidak mungkin, tetapi dia ingin mencobanya hingga dia mampu. Tepat saat Mary tertidur pulas, terdengar suara samar yang merdu di telinganya. Mary membuka kedua matanya, dan mencoba mencari siapa yang memanggilnya.
“Mary… Mary… Bangunlah…”
Manik mata hijau Mary mengarah ke sosok berambut ungu yang ada di dalam kamarnya. Rambutnya sangat panjang dan terlihat rapi. Pakaiannya seperti anak-anak tomboi umumnya, tetapi lebih tertutup. Sosok perempuan itu berjalan ke arah Mary pelan-pelan.
“Mary, gadis kecil yang malang, kau menderita…” kata sosok itu.
“Kau … si-siapa?” tanya Mary.
“Namaku Reve, dan kali ini aku akan mengurusimu memperbaiki kehidupanmu yang rusak.” Reve tersenyum ke arah Mary. Awalnya, Mary sama sekali tidak mempercayai ucapannya. Tetapi karena penasaran saja, akhirnya Mary sedikit tertarik.
“Ba-bagaima-mana-na mu-mungkin?” tanya Mary lagi, dia bangun dan duduk di atas kasurnya.
“Aku tidak mungkin membiarkan seorang anak kecil tinggal bersama lelaki kurang ajar dengan wanita-wanita sampah yang bersama dengannya.” jelas Reve, melayang-layang di dalam kamar Mary. “Kamu sendiri tidak tahan tinggal bersama Johnny, ayahmu, bukan? Kau ingin ke luar seperti burung yang ingin ke luar dari sangkarnya.”
“A-pa …ya-yang kau bi-bisa… buat pada-da-ku?”
“Aku tidak memiliki jaminan kalau apa yang kau dapat membuatmu tersenyum bahagia atau menjerit ketakutan dan menggertakkan gigimu, bahkan sampai membuatmu benar-benar ingin bunuh diri, tetapi yah, semoga tidak sampai terjadi begitu…” jawab Reve.
Tiba-tiba angin bertiup dengan kencang dari arah Reve. Mary mencoba untuk melindungi tubuhnya dengan dua lengannya yang kecil. Beberapa detik kemudian, angin berhenti bertiup. Kali ini Mary tidak memakai pakaiannya lagi. Sekeliling Mary juga berubah, terutama warna interior kamarnya. Serba merah muda, dengan tone warna yang berbeda-beda.
“Me-mera-rah muda! Ma-Mary suka!” seru Mary senang.
Mary melihat ke arah vas bunga berwarna putih yang ada di atas rak buku kecilnya. Vas itu berisi setangkai bunga lili. Bunga itu masih terlihat sangat segar, seperti dia dirawat dengan sangat maksimal dan baik oleh pemiliknya. Mary tidak ingat kalau dia merawat bunga di dalam kamarnya. Dia sendiri bahkan tidak mampu karena terus-menerus dikurung oleh ayah kandungnya.
“Kalau Mary tidak tahu, bunga itu adalah bunga lili yang berwarna putih.” kata Reve, muncul di belakang Mary dan mulai melayang-layang di udara.
“Li-Lili… mamaku… namanya Lili ju-juga!” komentar Mary dengan senyuman yang sangat lebar dan senang.
“Bunga Lili ini harus kau jaga baik-baik, Mary…” kata Reve memperingatkan, “Tidak boleh ada yang cacat dari bunga ini selama kau berada di dunia mimpimu. Kuntum bunga ini tidak boleh layu dan jatuh menyentuh tanah. Diserahkan kepada orang lain yang kau tidak kenali juga tidak boleh. Apapun yang terjadi, kau tidak boleh merusak bunga ini, termasuk orang lain.”
“Ma-Mary me-me-mengerti..” Mary menganggukkan kepalanya pelan.
Reve mengeluarkan sebuah batang coklat dari dalam vestnya, lalu memberikannya kepada Mary. Ketika Mary memakannya dengan lahap, dia dapat menemukan sebuah kunci berwarna perak di dalamnya. Untungnya dia tidak menelannya juga. Saat Mary mengamati kunci itu, dia merasa tidak asing dengan kunci yang dia pegang.
Mary ingin bertanya kepada Reve, tetapi sosok wanita itu telah lenyap tanpa sepengetahuannya. Terpaksa Mary harus menyimpan pertanyaannya. Pakaiannya kini adalah sebuah gaun merah muda yang cantik berbahan sutra, ada tiga lapis. Gaunnya memiliki sebuah kantung yang cukup untuk menyimpan kunci dan bunga lili di dalam vas.
Mary mengambil bunga lili itu dan berjalan menuju pintu berwarna merah muda tua yang tidak jauh darinya. Dia memasukkan kunci ke dalam lubangnya dengan tepat dan memutarnya. Ketika kunci telah dibuka, Mary membuka pintu itu selebar mungkin.
Mary terbelalak melihat pemandangan yang begitu indah. Taman bunga lili putih, air mancur yang besar dan megah, pohon-pohon eboni yang besar, dan lain-lain yang baginya sangat hebat. Mary tertawa riang, dia sangat senang untuk pertama kalinya. Tanpa ibunya, tentu saja. Dia melihat ke kanan dan ke kiri, mencari-cari Reve dan mengajaknya bermain di taman. Tentu saja, meskipun semuanya yang dia lihat dan rasakan kini adalah sebuah mimpi karya Reve.
Ketika Mary jalan-jalan di pinggir bak bunga lili berwarna oranye, dia menemukan sosok wanita lain. Dia bukan Reve maupun ibunya. Dari model rambut, warna kulit, gaya berpakaiannya, sudah berbeda dari keduanya. Wanita lain yang dilihat oleh Mary melemparkan pandangannya dari bak bunga lili oranye ke arah gadis kecil di hadapannya. Dengan angkuhnya, wanita berkulit coklat dan berambut pirang ikal itu berdiri dan berjalan layaknya seorang model di atas panggung catwalk kelas atas, berhadapan dengan Mary.
“Kukira gadis hina sepertimu sudah mati dan membusuk di kamar kecilnya yang tidak layak.” kata wanita itu tajam.
Mary mengerutkan dahinya. Dia ingat suara itu. Suara pel*cur pertama ayahnya yang menyebalkan. Mengapa dia ada di dalam mimpinya yang sangat indah?
“Untuk apa kau hidup pula, Mary? Kenapa tidak mati bersama ibumu yang sudah menyatu dengan tanah kotor itu?” tanyanya bertubi-tubi.
“DIAM KAU, CHELSEA!!” bentak Mary, “BERHENTI MEMBUAT HIDUPKU HANCUR!!”
“Anak kecil yang lancang!!” teriak Chelsea, hendak menampar Mary. Tetapi tangannya ditahan oleh orang lain.
Mary ingin sekali dua orang di hadapannya mati saja. Dia tidak mau berterima kasih kepada orang yang baru saja menyelamatkannya dari tamparan menjijikkan Chelsea. Dialah selingkuhan ayahnya yang kedua, sama-sama menyebalkan seperti Chelsea, bernama Anastasia. Gaya penampilan dan rambut ombre hijaunya saja membuat Mary ingin menyingkirkan Anastasia dan Chelsea secepatnya.
Mary segera berlari menjauhi Chelsea dan Anastasia, bersembunyi di balik pohon eboni yang cukup jauh dari mereka. Gadis kecil innocent ini menangis, duduk di atas tanah. Dia tidak menyangka harus bertemu dua orang yang dia hindari selama ini. Menyadari Mary sedang menangis, Reve memutuskan untuk menemuinya.
“Mary? Mengapa kau menangis?” tanya Reve khawatir.
“Mary ti-tidak ma-ma-mau be-berte-temu de-dengan Chelsea da-dan Anastasia!” jawab Mary sesenggukan.
“Ehhhhh, padahal mereka bagian dari ‘keluarga’mu…” komentar Reve.
“Bukan! BU-BUKAN! Huhuuu…” teriak Mary marah, tetapi air mata masih berlinang membasahi pipinya. Mary kembali menangis, tidak tahan dengan semuanya.
Reve langsung menjentikkan jarinya, memunculkan sebuah ingatan di dalam memori Mary. Awalnya, Mary mencoba untuk menebak-nebak. Dia langsung mengetahui jawabannya ketika dia teringat oleh dongeng yang dia baca saat ibunya masih hidup. Dongeng yang tidak sengaja dia temukan di ruang kerja ayahnya. Mengingatnya saja, dia sedikit jijik. Di dalam usianya seperti waktu itu pun, dia mengerti semua dunia orang dewasa.
“Ke-Kena-pa …ce-cerita pu-pu-putri ti-tidur…?” tanya Mary.
“Entahlah, aku bertanya juga padaku. Cerita itu mengerikan dan menarik.” jawab Reve, lalu dia kembali menghilang dari hadapan Mary perlahan.
Mary terkejut dan menjerit menyadari Chelsea dan Anastasia berada di samping kanan dan kirinya. Chelsea merebut bunga lili putih yang ada di kantung gaun Mary, sedangkan Anastasia menginjak tubuh mungil Mary dengan kakinya supaya dia tidak bergerak. Anastasia juga tidak segan-segan memakai high heels untuk menginjak Mary.
“Heee, bunga lili yang menjijikkan…” komentar Chelsea, lalu dia memetik salah satu kuntum bunga lili putih milik Mary.
“JANGAN!!!” teriak Mary histeris.
“Kenapa sih, banyak orang suka warna putih? Aku benci warna putih lho…” tambah Anastasia, dengan kasarnya ikut memetik kuntum bunga lili putih Mary.
“Ayahnya juga membenci warna putih, bukan, Anastasia? Karena Liliana, istrinya yang sama-sama menjijikkan seperti anaknya..” Chelsea memetik sekali lagi kuntum bunga lili putih Mary, dan membiarkannya terbang dibawa angin.
Tubuh Mary menjadi melemah, bukan karena injakan Anastasia. Setiap kali kuntum bunga lili putih Mary dicabut, Mary merasa tubuhnya kesakitan dan menderita. Dia juga merasa jijik, pikirannya menjadi kacau balau. Air mata kembali membasahi pipi Mary. Suaranya menjadi serak, seperti baru berteriak. Dia ingin memanggil Reve, mencari bantuannya. Tetapi nihil.
Puas dengan bunga lili putih milik Mary, Chelsea menjatuhkan bunga itu ke tanah dan menginjak-injaknya hingga bunga putih itu kotor. Anastasia berhenti menginjak Mary pada saat itu juga. Mary cepat-cepat mengambil bunga lili putihnya, sedangkan Chelsea dan Anastasia pergi meninggalkannya.
Beberapa detik setelah keduanya pergi, sosok wanita lain yang mirip Reve muncul di hadapan Mary. Pakaiannya kini tidak serba ungu dan terlihat ceria meskipun terlihat tomboy, tetapi pakaiannya didominasi warna hitam dan merah. Gaun yang dia kenakan juga lebih panjang dari gaun Mary, dan hanya dua lapis. Meskipun anggun, dia terlihat dingin dan menakutkan dalam waktu bersamaan.
Manik mata merah sosok kembaran Reve menatap tajam Mary yang melihat ke arahnya. Dia tahu Mary kehabisan kata-kata, bahkan tidak mungkin berkata-kata karena tenggorokannya benar-benar kering. Tidak membuang banyak waktu lagi, dia memperkenalkan dirinya.
“Akulah saudari kembar Reve… Aku disebut sebagai ‘Reala’ …” katanya, “…Aku dibenci karena membawakan realita pahit. Tetapi lebih baik tahu daripada tenggelam di dalam dunia fantasi yang menakutkan meskipun terlihat menyenangkan. Seperti dunia ini, kau malah bertemu dua pel*cur itu daripada bertemu ibundamu…”
Reala menjentikkan jarinya. Seluruhnya yang ada di sekitar Mary berubah menjadi suram. Semua bak bunga lili di taman menjadi layu, tanpa terkecuali tumbuhan-tumbuhan lain di sekitarnya. Langit menjadi warna hitam. Apapun yang indah, berubah menjadi menyeramkan. Angin sejuk digantikan angin yang sangat dingin, menusuk kulit Mary. Kini burung-burung gagak berterbangan di udara.
“Mary bodoh… Mary bodoh… kau malah membiarkan bunga lili pemberian Reve, saudariku, hancur…” Mary dapat mendengarkan Reala bernyanyi dengan suara merdu di telinganya.
“Bunga lili putih yang indah… diinjak-injak sampah… sangat memalukan… oh, rendah sekali…” lanjutnya, “…tidak hanya di realita, bahkan di dunia mimpi juga… ”
“Apakah kau tidak mau kehidupan baru, Mary sayang? Jangan bilang kau tak tahu arti bunga lili putih…”
“…Kesucian, kesucian, itulah salah satu artinya… kau mengerti sekarang? Jawablah… kau bisa berkata-kata…” Reala mengakhiri lagunya, lalu mengeluarkan payung hitamnya yang berenda.
Reala melihat ke arah Mary yang diam dan menggigil. Bukan karena dia kedinginan, tetapi membayangkan betapa mengerikan lagu yang dibawakan oleh Reala. Sebenarnya, Reala tahu, dia tidak menyukai cara ini, tetapi ini adalah hukuman untuk Mary. Reala tentu saja memiliki hati untuk mengampuni manusia yang ada di hadapannya.
Reala mengarahkan ujung payung hitamnya ke arah lain. Tiba-tiba, muncullah sosok bayangan yang menyeramkan, mendekati mereka. Mary makin ketakutan, Reala langsung mengambil tindakan untuk menjelaskan semuanya secepatnya sebelum bayangan itu mendapatkannya.
“Berlarilah, menjauh darinya! Segera temukan ibumu yang memiliki pakaian serba putih, kau akan selamat! Jangan berhenti berlari, jangan lihat ke belakang, pandanglah lurus!” seru Reala.
Mendengar perkataan Reala, Mary segera melakukan apa yang dikatakan olehnya. Dia meninggalkan Reala, berlari sejauh yang dia bisa. Dia tahu, dia bukanlah pelari hebat. Berlaripun kaki Mary bergetar karena tidak kuat. Bayangan hitam yang muncul karena Reala terus menerus mengejar Mary. Mary makin ketakutan dan mempercepat larinya.
Mary memejamkan matanya erat, kakinya tidak berhenti berlari. Dia mulai merasakan bayangan itu nyaris mendapatkannya. Mary memohon untuk siapapun untuk menolongnya, Reve ataupun Reala, mungkin orang lain. Ketika kaki Mary mulai lemas, dia dapat melihat sosok putih yang dimaksud oleh Reala. Mata Mary mulai berkunang-kunang, tubuhnya sudah mati rasa semua.
Terakhir kali yang dirasakan oleh Mary adalah cahaya hangat yang menyelimutinya. Dia dapat melihat ibunya berdiri di hadapannya, lalu di belakangnya terdapat Reve dan Reala, meskipun samar-samar. Lalu, semuanya menjadi kabur. Tidak hanya itu, Mary merasakan tubuhnya penuh dengan rasa sakit, bukan karena memar. Perlahan, rasa sakit itu menghilang.
Mary bangun dari tidurnya dan melihat sekitarnya. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Tidak ada yang bisa diingat Mary selain cahaya hangat tadi. Apapun tentang mimpi indah dan mengerikan yang dihadapi Mary, dia tidak ingat sedikitpun. Apalagi tentang Reve dan Reala, kedua nama itu terdengar asing di telinga Mary. Semuanya menjadi aneh.
Mary merogoh-rogoh kantung rok panjangnya. Dia mengeluarkan sebuah kunci berwarna perak. Dia tidak ingat kalau dia mencuri kunci itu, rasanya tidak mungkin. Sejak kapan ada kunci kamarnya di dalam roknya? Dia sendiri tidak tahu jawabannya. Dia mengira kunci yang dia dapatkan adalah kunci duplikat yang Mary tidak sadari. Ibunya yang menyembunyikannya, itu saja.
Tanpa berpikir panjang lagi, sang gadis cilik bangkit dari tempat tidurnya dan berlari menuju kamarnya. Dengan cepat dia membuka kunci pintu kamarnya, dan ke luar secepatnya. Tidak ada siapa-siapa di luar kamar Mary. Mungkin ayahnya ada di kamar, sibuk dengan ‘pekerjaan’nya. Mary tahu ada telepon di ruang tamu. Dia mencoba untuk menghubungi kantor polisi sebelum orangtuanya tahu.
Setelah telepon tersambung, Mary langsung melaporkan semuanya apa yang terjadi padanya dengannya kepada pihak yang bertugas. Dia menceritakan tentang pelecehan s*ksual orangtuanya terhadap dia, melakukan kekerasan, dan lain-lain yang informasinya diterima dan akurat. Untungnya sang polisi mempercayai perkataan Mary dan segera bertindak. Mary mengirimkan alamat rumahnya, dan beberapa identitas lainnya yang dibutuhkan. Setelah selesai, Mary hanya tinggal menunggu dia akan selamat.
Reve dan Reala muncul di sekitar Mary, hanya saja dia sendiri tidak menyadari kehadiran mereka. Keduanya menyaksikan para polisi yang masuk ke rumah Mary dan menangkap ayahnya bersama para pel*cur, sedangkan paman Mary ada disana. Setelah diinterogasi, akhirnya Mary diizinkan tinggal bersama pamannya, dan artinya dia tinggal di luar negeri karena pekerjaan pamannya.
“Saudariku, Reve, kau memainkan permainan yang menyenangkan…” komentar Reala dingin.
“Ah tidak, Reala, aku hanya menjalankan tugasku …” sahut Reve, lalu dia tertawa kecil.
“Aku tidak suka jika aku mendapatkan peran kecil, Reve!” omel Reala, “Lagipula, beruntung aku pandai mengarang sebuah lagu! Sudah ratusan tahun aku tidak menyanyi untuk manusia!”
“Aku suka ketika kau tahu bagaimana mendominasi permainanku dengan permainanmu… Itu sangat menyenangkan…” kata Reve, tersenyum kecil ke arah saudarinya.
“Yah, bodoh sekali… aku harap Mary kecil bisa hidup bahagia setelah ini…”
“Jika tidak, maka terpaksa kita harus bertindak lagi, benar bukan, Reala?”
Tamat

guardianteli

Dunia benar-benar kacau selama dua puluh tahun terakhir ini. Jika dilihat dari Planet Mars, maka tak ada lagi sepetak hijau yang melekat. Biru menguasai Bumi. Dua puluh tahun silam es mencair serentak, Kutub Utara dan Kutub Selatan berkolerasi, air laut pasang, menenggelamkan daratan, hanya tersisa secerca hijau yang masih pula menyisakan kehidupan bagiku dan penduduk Bumi lain yang masih bertahan.
Di Bumi sekarang ini terbagi tiga golongan besar manusia. Manusia pelindung, perusak dan manusia tak acuh yang hanya menggantungkan hidup pada nasib. Apa yang kami lindungi, rusaki atau bahkan ditak acuhkan saja? Adalah secerca hijua itu, pohon Tree Of Life. Aku adalah kaum pelindung pohon agung itu. Dengan gelar yang disematkan di belakang namaku, dengan bangga aku menyebut namaku, Ardan Guardianteli, Guardian Of ‘Tree Of Life.’
Dua hari kedepan adalah hari yang kami damba, adalah hari dimana Bumi telah mengalami 21 tahun dalam fase kerusakan fatal. Saat itulah bibit Tree Of Life yang pertama akan tumbuh, membawa harum semerbak serta harapan yang menumpuk. Bibit itu kemudian akan kami jatuhkan tepat pada titik khatulistiwa, dan akan tumbuh menjadi pulau yang baru bersama Tree Of Life yang kedua. Jadilah Bumi ini akan mendapat mahkota kedua. Begitulah yang akan terus diwarisi generasi kami, menunggu selama 21 tahun untuk memperoleh bibit baru, sampai bumi dipenuhi hijau kembali, benar-benar perjuangan.
“Hei! Itu kaum Perusak!” Ramiro berteriak keras, membuyarkan hayalanku tentang dua hari kedepan. Ia menunjuk sebelah timur samudera, terlihat buram mereka melaju kencang dengan perahu inovasi kami yang telah mereka curi. Semakin jelas wujud mereka, tiga perahu besar. Dua perahu berbendera merah, dan satunya lagi… Apa maksud Kaum Tak Acuh berbendera putih itu?
Tanpa pikir panjang, tangan kami sudah mencekal papan kayu, tombak, parang, panah, bahkan pistol bawah air yang siap menembus hati kosong mereka. Beberapa kawan lain juga sudah membimbing perahu untuk berlayar. Dengan gagah, Mento mengibarkan kain hijau. Kami siap bertugas.
Deburan ombak menjawab semangat kami, suara mesin ramah lingkungan terdengar ramah, namun tak seramah ketika bertempur melindungi pusat kehidupan yang mulai sekarat. Kami harus cepat, jarak kami dari pulau inti harus sekitar satu kilometer, tak boleh satupun bahan kimia yang boleh mencolek Tree Of Life. Rentan sekali.
Pertempuran sengit terjadi begitu saja, tanpa naskah ataupun latihan. Segera kuceburkan diriku ke dalam air, sementara yang lain bertahan beberapa menit untuk menghalau serangan, kemudian menyusul selam. Belum satu menit terbelenggu air, kaum perusak juga menyeruak permukaan air. Mereka mulai menembaki kami dengan peluru timah yang asal saja, karang-karang berhamburan, ikan-ikan melarikan diri mencari tempat lindung, benar-benar menjengkelkan mereka. Daratan sudah hancur, apa mereka juga hendak membinasakan laut? Mataku berapi, serasa hawa laut memanas. Kugerakkan kakiku dengan cepat arah vertikal, aku menjemput peluru mereka, meliuk bagai duyung, menghindar, tangan kanan memegang tombak, kuhempas tongkat mata runcing dengan beringas, tepat mengenai perut Marvent, putra Ketua Kaum Perusak.
“Bagus Guardianteli! Lakukan terus! Masih banyak dari mereka” Kapten Terre berteriak menyemangati, sudah jatuh tujuh musuh. Benar-benar sukses pertempuran kali ini. Betapa tidak, sisa dua hari lagi puncak kehidupan akan bertambah tinggi. Bibit Tree Of Life. Tak akan kami biarkan harapan itu hancur. Semakin ganas kami menyerbu, peluru-peluru mereka ditembak ganas pula, namun kami lebih terlatih, liak sana-liuk sini, mudah kami menghindar, lantas bila target sudah mengempuk, segera kami tikam, tembak atau sekadar memukul.
“Kau sudah tak bisa apa-apa lagi Tuan Perusak” ancam Kapten Terre pada Ibil, ketua Kaum Perusak. Ibil tak takut, malah sekarang tersenyum sinis di atas perahu. Ia tertawa bahak, sangat gembira terdengar.
“Dimana urat rasa kalian? Tak merasakan napas kalian tersengal sekarang?” ia menyembur pertanyaan aneh, meski memang napas kami susah terkontrol, “Dan juga tak sadar dengan raibnya kapal Kaum Tak Acuh?” ia melanjutkan.
Kami seperti tersetrum, baru menyadari keganjilan yang kami hiraukan. Kemana gerangan kapal bendera putih itu? Lalu mengapa napas kami terengah-engah seperti ini? Entah, Ibil benar-benar menanam pohon tanya pada kami.
“Tree Of Life kalian akan binasa!” Ibil bersuara tiba-tiba, segera membuncahkan rasa takut.
“Tidak mungkin!” teriak Kapten.
“Dasar bodoh, kalian pikir buat apa kami menyerang tembak saja tidak menombak atau minimal berenang ke arah kalian untuk memukul?” Ia diam, menunggu reaksi, “Kami mengulur waktu kalian. Sekarang Kaum Tak acuh dungu itu mungkin sudah setengah kerja, menyisakan setengah diameter batang Tree Of Life. Tinggal beberapa menit lagi pohon itu akan tumbang menghanguskan oksigen kalian.”
“Ah! Diam kau!” teriakku sambil membidik jantungnya, tombakku telak menembus jantungnya. Aku tersenyum jemawa melihatnya kesakitan memegang tombak yang sudah tertancap. Namun bukan darah yang mengalir keluar, kepulan asap yang bermunculan. Ia kembali tertawa, tertawa yang menjengkelkan. Dengan mudah ia menarik tombak, membuat kepulan asap bertambah pekat. Sedetik asap hilang menyisakan dada kiri yang masih utuh, hanya baju yang sobek. Kami terperangah, sihir macam apa yang dianut Ibil ini?
“Sudah kuduga sejak lama, kau adalah Iblis terkutuk!” Kapten Terre berucap pasti. Yang diteriaki memasang wajah bangga.
“Maksud Kapten?” aku memecah balon tanya. Kapten Terre tak menjawab, tetap menatap marah Ibil yang dianggapnya Iblis.
“Tak ada waktu para Pelindung! Segera kembali ke pusat Tree Of Life! Tak ada gunanya mengurusi Iblis bertubuh manusia itu”
Kapten segera berbalik badan mengunyah daun kering Pohon Kehidupan. Itu pertanda kondisi darurat. Daun kering itu sangat langka, hanya jatuh setiap satu tahun sekali dan hanya boleh digunakan pada keadaan terpaksa. Kami ikut mengunyah daun kering. Segera badan kami dipenuhi stamina. Kupijakkn kakiku pada permukaan air, lantas tanganku cepat kuayunkan ke belakang seperti hendak berlari. Maka melesatlah tubuhku seperti mengendarai ski air. Begitulah salah satu kekuatan daun kering itu, membuat kami dapat berjalan dan melesat cepat di atas air.
“Sebenarnya apa yang terjadi Kapten?” aku berhasil menyamakan posisi dengan Kapten Terre.
“Kau tau Ardan? Sudah sejak lama aku menduga kedok Ibil itu. Tidak mungkin manusia berakal ingin menghancurkan Pohon yang menyediakan mereka oksigen,” Kapten terdiam sejenak, “karena Ibil bukan manusia, dia Raja Iblis Khatulistiwa. Raja dari segala raja Iblis di dunia paceklik. Selama hidup ia terus meracuni pikiran manusia, terutama manusia Tak Acuh. Sebenarnya dulu tidak ada golongan penghancur, namun berkat ulah Ibil beserta bala tentaranya ia mencipta partai baru, Kaum Penghancur. Kaum itu adalah himpunan manusia tak acuh yang sudah menghitam hatinya, tak menyisakan titik putih karena racun goda yang sudah berlumur.”
“Lalu mengapa Ibil tidak menggoda kita saja?” aku mendaftar pertanyaan kedua.
“Karena kita adalah Guardianteli, kaum yang dekat dengan Pohon Suci yang diberkahi. Ibil tak dapat meracuni kita atau bahkan untuk sekadar meneteskan racun itu, tubuh kita otomatis melindungi. Kau pasti tidak pernah melihat Ibil mendekati kita dengan jarak satu meter bukan? Karena ia akan merasa panas bila berada lebih dekat dengan para Pelindung, bila kau memeluknya maka seutuh tubuhnya akan terbakar. Dan kau bisa lihat sediri, saat kita berbalik ia tidak mengerjar” aku tekesiap, memang Ibil tak mengejar, bahkan malah lenyap bersama asap hitam.
“Tak ada gunanya memikirkan Iblis itu. Segera percepat diri, dunia sudah diambang mati” Kapten menyudahi percakapan.
Aku mengerti, kukencangkan lagi lajuku.
Disana sudah terlihat Tree Of Life, tampak bergoyang-goyang daun rimbunnya. Aku tak dapat membayangkan kemungkinan terburuk. Manusia dapat seketika musnah begitu Pohon itu jatuh. Sepersekian menit kami tiba di pesisir pulau. Kaum Tak acuh menggerakkan kiri-kanan sebuah logam datar, mereka menggergaji batang Tree Of Life.
“Hentikan kaum bodoh!” Aku sudah berteriak lebih dulu, benar-benar membara amarahku. Namun mereka malah tak acuh denganku. Ah, benar-benar kaum tak berguna. Kapten Terre tak memperhatikan kejengkelanku, lantas turun lebih dulu menapaki tanah, segera mencekal batang tubuh mereka. Orang-orang berkulit abu-abu itu membalas dengan memutar badan dengan lincah, tampaknya mereka sudah dilatih lebih dahulu sebelum beraksi. Genggaman tangan Terre terlepas. Belum sempat mengembalikan posisi tubuh, Terre ditendang kencang ke belakang.
Hal tersebut membuat kami geram. Aku dan yang lain sudah mengangkat tombak, mengincar jantung mereka. Tombak terhempas. Sia-sia, mereka menghindar. Aduhai, obat apa yang dirasukkan dalam diri mereka. Sekarang mereka malah memungut tombak kami, lantas membelah udara dengan batang tembaga itu. Bahuku tergores, perih. Sementara Nidri, putri perkasa Kapten Terre tertusuk tepat di perutnya. Darah mengucur sudah, hatiku kian sesak.
Kaki kami terus melaju, mendekati Kaum Tak Acuh. Tak ada senjata, tak apa. Gunakan apa yang ada, walau itu hanya sengenggam udara. Perang tak dapat dibendung. Kali ini bukan pertempuran bawah laut. Baru pertama kalinya bumi ini mendapati pertempuran darat setelah hampir 21 tahun mengalami kehancuran. Benar-benar hari ini menjadi penentu.
Aku mulai tahu teknik kelahi mereka. Baik, akan kugunakan cara ini. Kuberikan kode kepada yang lain, bahasa telepati Kaum Pelindung. Mereka mengerti. Kami membiarkan mereka terus menuruti hasrat memukul. Gesit kami menghindar, seperti kadal pohon yang tetap lincah kendati pijakan pohon tiada. Lalu jika tangan kulit abu-abu itu mendekati samping telinga, segera muncul sifat ganas kami, menggigit tangan mereka, menyebarkan liur racun hasil kunyahan daun kering Pohon Kehidupan.
Mereka memundurkan langkah, mengenggam lengan mereka. Sudah terlambat, mereka akan binasa. Mereka berlutut, merunduk, seolah memeluk sakit.
“Jangan percaya Guardianteli!,” Kapten Terre berteriak tiba-tiba, sembari menghindar dari pukulan musuh lain, “itu kamuflase, mereka menjalarkan racun dari dalam tanah. Cepat ludahi tanah di sekitar kalian” Kapten memerintah. Kami mengikut saja. Terciptalah asap hitam ketika kami meludahi hamparan tanah sekitar, hampir kami mati perlahan. Itu adalah racun pamungkas Kaum Tak Acuh. Mereka dapat mengalirkan racun ke beberapa medium. Lantas mengapa racun kami tak mempan?
Belum sempat kami meretas tanya, Kaum Tak Acuh mulai menyemprotkan serbuk ungu. Racun kedua dengan medium udara. Benar-benar, Pohon Kehidupan akan bertambah sakit dengan semua bahan kimia ini. Kami hanya dapat menahan napas, dan tak henti terus melakukan penyerangan. Kami maju, namun bertarung dengan napas yang tertahan dan terengah membuat kami kewalahan. Uronas yang begitu semangat kini tumbang, serbuk itu berhasil menggerogoti pernapasannya. Satu demi satu para Pelindung jatuh merangkul harapan besar, selamatkan bumi ini.
Aku sudah tak tahan, aku mulai terbatuk lantas dijatuhi tendangan dari salah seorang musuh. Terlemparlah tubuhku. Apakah sekarang adalah giliranku? Kapten Terre tiba-tiba saja mencium kepalaku, aku tahu itu. Adalah penyaluran beberapa usia hidup. Darahku mulai menormal, suhu tubuhku mulai seimbang, dan tentu gerakanku akan lebih gesit lagi. Aku menatap Kapten Terre.
“Kenapa kau melakukannya Kapten?” kukirim telepatiku.
“Karena sesuatu hal besar ada pada dirimu” Kapten Terre tersenyum menjawab. Ia kemudian menghirup seluruh serbuk ungu itu. Kembali bening udara. Ia bejalan tersuruk mendekati Tree Of Life. Dapat kulihat jelas wajahnya. Wajah yang menampung beban yang teramat sakit. Cairan bening mengalir dari ceruk matanya. Tidak pernah ada sejarahnya Kapten Terre menangis. Kapten yang berambut hitam diselingi putih tersebut mulai membentangkan tangan, seolah memasrahkan diri. Jelas, Kaum Tak Acuh seketika berhasrat menyerang. Mereka memajukan ujung tombak dengan beringas pada tubuh Kapten, aku dan yang lain berusaha berdiri, hendak membantu, namun entah tubuh kami seperti membeku.
Tertusuk sudah tubuh Pemimpin kami, ujung-ujung tombak tampak menyembul dari tubuhnya. Aku menatap bisu, mulutku menganga kaku. Pemimpin kami dibunuh dengan ganas. Tapi kapten tak mengubah posisi, tetap membentangkan tangan. Sedetik-semenit kami dapat merasakan sakit Kapten Terre, sakit hati jikalau kehilangan satu-satunya pohon dan tentu sakit tertusuk tiga tombak dari tiga arah. Di tengah terjangan sakit, Kapten masih sempat menengok kami sambil menyemburatkan senyum simpul. Aku tak sanggup melihatnya. Lihatlah! Kapten seperti pendosa yang dihukum mati.
Entah, tiba-tiba saja cahaya seperti terbit di tubuh Kapten Terre, begitupula dengan Tree Of Life. Kaum Tak Acuh mengaduh kesakitan, teramat sakit terdengar. Sebentar sekali peristiwa itu. Tubuh anggota Kaum Tak Acuh seperti raib, tidak menyisakan bekas. Lantas cahaya itu gegas menyebar memenuhi seluruh jarak pandang kami. Silau namun menenangkan jiwa. Aku mendapat telepati, jenis telepati yang amat langka.
“Kau tahu nak, tidak sedemikian rupa aku menyalurkan setengah umurku padamu. Demikian bukan hanya usia dan energi yang tersalur, namun sekaligus darah pemimpin baru. Seharusnya pergantian pemimpin terjadi setelah munculnya benih. Tak akan ada anggota dari kaum kita yang akan dapat memimpin sebelum bibit pertama muncul. Namun ini semua di luar rencana. Dan aku melihat hal yang lebih besar darimu daripada kawanmu yang lain bahkan diriku sendiri. Maka kuberi kau darah pemimpinku, hal besar darimu itu sudah cukup untuk membantumu memimpin, maka kupilihlah dirimu wahai Ardan. Orang tua ini harus menghilangi, TAPI TETAP DI SINI.”
Habis telepati itu, cahaya menyusut cepat pada satu inti titik di tengah pulau, lantas dengan cepat kembali menyemburkan butir-butir cahaya yang indah. Membawa kedamaian dan ketenangan. Mataku basah haru, lihatlah di pusat pulau! Tree Of Life tetap menegak dengan gergaji besar dan tombak yang berserakan di sekitarnya. Tak habis pikir, perjuangan kami tidak sia-sia. Kawan lain segera menghambur saling peluk, mengacak rambut sebagai tanda kegembiraan. Tak terkecuali diriku, Mento dan Ramero melepas gembira. Kuacak keras rambut ikal Mento. Kami bersuka ria.
Di balik itu semua, keanehan masih menggantung. Kaum Tak Acuh tak menyisakan jejak walau sebatas bau amis mereka. Begitupulah Kapten Terre. Aku masih rabun fakta, apa maksudnya ‘orang tua ini harus menghilangi, tapi tetap di sini’? Apakah Kapten Terre menjelma bagian Tree Of Life yang hilang karena digesek logam raksasa? Terkaanku benar-benar luar akal.
“Kau sudah dapat telepati, Ardan?” tanya Romero yang memperbaiki rambut panjangnya, telah dililit kayu kecil oleh Mento.
“Yah, dan sepertinya kalian juga,” aku menarik napas, “Ro, aku ingin meyakini bahwa bagian Tree Of Life yang digergaji itu benar-benar adalah tubuh dan nyawa Kapten,” lanjutku. Tampak wajah Remero memaklumi.
“Tak apa kau menerka. Yang terpenting kau yakin bahwa tentu kapten akan melakukan sesuatu yang bijak. Termasuk mengangkatmu sebagai penggantinya” Romero mulai meletakkan genggaman tangan kanan di dada kiri dan tangan kirinya memeluk perut secara bersamaan. Penghormatana khas Kaum Pelindung. Kawan lain mengikut. Suasana seorang pemimpin menyergapku. Aku akan memimpin para Guardianteli dalam penangguhan bibit pertama. Kami harus menunggu 21 tahun lagi.
Kaki senja mulai menapaki Bumi, kami mengelilingi Tree Of Life. Kami berikrar akan benar-benar melindungi Pohon Kehidupan beserta nyawa Kapten Terre di dalamnya. Sore itu kami dikungkung haru. Harapan baru mulai menyala, kami rajut semangat. Duhai waktu, jalankan cepat 21 tahunmu.

siren


“Ayah! Ayah! Bisa gak ceritakan lagi kepada Nila tentang Siren?”
Ayah menatapku sebentar, lalu mengangguk sembari menepuk bantal duduk yang tertera di hadapannya. “Sini duduk sama Ayah!” Aku bersorak girang, lalu berlari kecil menuju tempat yang ditunjukkan Ayah kepadaku. Setelah aku duduk rapi, Ayah berdehem keras, untuk pembukkan yang menegangkan, katanya. Mataku berbinar menunggu Ayah bercerita.
“Pada suatu kala, di pulau terpencil bagian Utara, hiduplah seorang laki-laki bernama Seth. Ia mempunyai istri cantik bernama Sarah. Mereka berdua hidup bahagia di pulau yang nyaris tidak berpenghuni itu. Suatu saat, di hari yang cerah, tiba-tiba Sarah mengatakan bahwa ia sedang mengandung. Seth yang mendengar kabar itu, senang bukan kepalang. Mereka sangat menjaga kandungan Sarah, terlebih karena kesehatan Sarah menurun. Sampai suatu hari…”
Aku merengut kesal, karena Ayah berhenti di bagian seru. “Yah! Kok berhenti, ceritanya kan belum habis!” Ayah hanya tertawa lalu mengerling jahil kepadaku, “Nila pingin banget dilanjutin?” Aku mengangguk cepat, sedangkan Ayah malah terbahak. “Baiklah, Ayah lanjutin. Tapi, Nila janji ya gak akan ribut.” Sekali lagi aku mengangguk.
“Sampai suatu hari, di usia kandungan Sarah menginjak 9 bulan, ia kabur dari rumah dan melahirkan seorang anak perempuan bernama Lea. Ia meninggalkan Lea di depan rumah miliknya dan Seth. Lalu Sarah pergi ke laut yang terdapat banyak tebing dan batu karang. Ia melompat masuk ke dalam laut dan berubah menjadi, uhuk! Uhuk!”
Tiba-tiba Ayah berhenti lagi, tetapi kali ini berbeda. Ayah terbatuk-batuk, mukanya sudah pucat pasi, dan saat batuknya mulai reda, aku melihat cairan berwarna merah kehitaman kental menetes dari tangan Ayah. Itu kan darah! Spontan aku berteriak memanggil Bunda.
“Bunda! Bunda! Ayah batuknya berdarah! BUNDA!” Air mataku yang sedari tadi menggenang, langsung meluncur deras dari kelopak mataku. Aku yang waktu itu berumur 9 tahun, harus menerima kenyataan bahwa Ayah mengidap kanker paru-paru stadium 2.
Pemakaman Ayah dilangsungkan selama dua jam, akibat Bunda yang meronta-ronta agar tubuh Ayah tidak dimasukkan ke liang kubur. Ayah meninggal akibat kanker yang dideritanya selama empat setengah tahun ini. Aku hanya menatap nanar nisan yang bertuliskan nama asli Ayah.
Seth Saphire.
Nama yang selalu Ayah ceritakan di setiap malam sebelum aku tidur. Nama yang selalu kuingat di luar kepala. Nama yang selalu disandingkan dengan nama Sarah. Nama yang selalu kumimpikan. Ternyata itu nama asli Ayah.
Aku mengetahuinya setelah Bunda menyuruhku untuk mengambil surat titipan Ayah sebelum meninggal di laci meja kerjanya. Berkat surat itu aku juga menemukan dua fakta; aku adalah kakak Lea dan Sarah adalah ibu tiriku. Tidak kubayangkan bagaimana perasaan Bunda saat menemukan fakta ini, bagaimana ia bisa menerima kenyataan ini dengan mudah?
Biar kujelaskan, Ayah mempunyai dua istri, istri yang pertama adalah Bunda dan istri yang kedua adalah Sarah. Aku dan Bunda tinggal di kota, sedangkan Ayah dan Sarah tinggal di pulau terpencil. Beberapa tahun kemudian, Ayah ke kota membawa seorang gadis yang kuketahui bernama Lea. Ayah tidak menjelaskan asal-usulnya dan hanya memberi tahu kami bahwa Lea adalah anak yang ditemukannya saat perjalanan menuju kota. 6 bulan kemudian Lea menghilang tanpa jejak. Tidak ada yang tahu dia menghilang kemana, bahkan Ayah sekalipun.
Tapi, hari ini aku melihat Lea bersama Sarah berada di atas permukaan laut, menatap makam Ayah yang tak jauh dari sana. Ayah memang sudah merencanakan saat dirinya meninggal, ia mau dimakamkan di pulau terpencil ini. Setelah bertahun-tahun, aku baru menyadari bahwa Sarah adalah ibu kandung Lea sekaligus orang yang sering diceritakan oleh Ayah.
Aku menatap Sarah begitu lama, tanpa sadar aku berjalan ke arahnya. Nyanyian merdunya membuatku terhasut dan menjalankan rencananya. Sekarang setengah badanku sudah masuk ke dalam lautan. Sarah menarik tanganku lalu merapalkan sebuah mantra yang terdengar merdu di telingaku. Dalam sekejap, aku tidak bisa merasakan kedua kakiku lagi. Tetapi, aku bisa merasakan sebuah ekor duyung. Tiba-tiba, Sarah dan Lea mengapit kedua lenganku lalu mengajakku menyelami lautan yang luas.
Aku yang waktu itu berumur 12 tahun, harus menerima kenyataan bahwa Ayah telah meninggal dan aku berubah menjadi Siren.
THE END

cokelat ekspresi

Satu bulan menuju hari kasih sayang merupakan hari-hari yang sangat sibuk bagi para peri di Coco Hills. Saaangat sibuk hingga tak ada peri yang terlihat duduk bersantai. Maklum, Coco Hills merupakan kota kecil yang terkenal akan Coklat Ekspresi untuk hari kasih sayang. Coklat Ekspresi bukanlah coklat biasa. Rasa dari coklat ini bermacam-macam, sesuai dengan sikap dan perasaan orang yang memakan coklat tersebut.
Rasa coklat itu bisa tidak enak jika anak nakal yang memakan coklat itu. Sebaliknya, cita rasa coklat terenak di seluruh dunia akan dirasakan oleh anak-anak yang baik hatinya.
Namaku Hanna, peri Coco Hills yang tahun ini diberi kesempatan oleh Ratu Peri untuk membagikan Coklat Ekspresi kepada anak-anak di seluruh dunia. Aku sangat bangga dan merasa seperti Sinterklas yang akan membagi hadiah di saat Natal. Karena hanya lima peri yang teladan yang menerima kesempatan ini.
Inilah impianku untuk bisa bertemu dengan manusia-manusia yang memiliki beragam sifat yang tak terduga. Dalam membagikan Coklat Ekspresi, peri Coco Hills tak perlu memiliki sayap seperti malaikat cinta atau cupid. Kami bisa menyamar menjadi manusia. Sungguh mengasyikkan, bukan?
Akhirnya hari kasih sayang tiba! Pagi ini, sebelum berangkat menuju ke seluruh penjuru dunia, aku berdiri di depan kaca sambil memilih-milih baju yang bagus dan merias wajahku secantik mungkin.
“Kalian adalah peri terpilih. Jadikan hari kasih sayang ini berharga bagi semua manusia. Jangan sampai kalian mengacaukan hari kasih sayang mereka. Kebahagiaan mereka ada di tangan kalian,” pesan Ratu Peri sebelum kami berangkat.
Kami semua memejamkan mata, lalu cahaya kuning mengangkat kami berlima. Tiba-tiba, aku terjatuh di halaman sebuah gedung yang besar dan ramai oleh manusia. Gedung dimana bisa membuat manusia menjadi pintar dan mempunyai banyak teman, yaitu sekolah.
Aku berdiri sendiri, tanpa empat teman periku. Aku melihat sekelilingku yang asing. Terlintas rasa takut untuk menghadapi manusia. Namun demi rasa cinta dan kasih sayang manusia, aku harus bisa mengalahkan rasa takutku.
“Permisi, apa Anda menjual coklat ini? Aku ingin memberi hadiah kepada orang yang aku suka, tapi aku tak punya cukup uang,” tiba-tiba seorang anak perempuan berambut ikal dan mengenakan kacamata bulat menghampiriku dengan penuh belas kasihan.
“Baiklah, tenang saja. Coklat ini aku berikan gratis untukmu,” kataku.
“Benarkah?” tanyanya tak percaya.
“Ya, benar! Namun kamu harus hati-hati saat memakannya. Jangan memakannya saat kamu melakukan kenakalan, ya!” kataku memperingatkan.
“Baik, terima kasih kakak! Selamat hari kasih sayang!” serunya sambil melompat-lompat kegirangan.
Tak lama kemudian, banyak anak-anak berhamburan mendekatiku dan meminta coklat itu kepadaku.
“Tenang-tenang! Jangan berebut! Semua pasti dapat,” seruku.
Aku kewalahan menghadapi puluhan anak yang menyerbuku. Tiba-tiba terdengar suara bel dari dalam gedung. Lalu anak-anak yang menyerbuku mulai berkurang. Mereka masuk ke dalam sekolah.
Namun, ada dua orang anak perempuan yang menghampiriku saat halaman sudah mulai sepi.
“Kakak memberikan coklat itu gratis, ya?” tanya anak yang bertubuh lebih tinggi.
“Kata teman-temanku coklat ini memiliki rasa yang unik. Semakin lama semakin enak. Aku menjadi penasaran seenak apa coklat ini,” tanya anak lainnya yang bertubuh gemuk.
“Memang benar, coklat ini bukan coklat biasa. Ini aku beri gratis untuk kalian. Aku harap perasaan kalian sedang penuh cinta dan kebahagiaan saat memakan coklat itu, agar rasanya lebih enak,” kataku.
Aku memberi masing-masing satu coklat. Namun mereka membuatku terkejut dengan teriakan mereka,
“Hanya satu?”
“Kakak pelit sekali sih. Coklat itu masih berkarung-karung. Setidaknya beri kami lima batang!”
Kedua anak itu melipat tangan dan mengerutkan dahi. Lalu aku menjelaskan,
“Masih banyak anak yang belum mendapatkan coklat ini, biarkan yang lain juga merasakannya .”
Tanpa pikir panjang, anak yang lebih tinggi meraih karung yang sudah terbuka. Aku berusaha merebutnya, namun aku kalah. Karena satu lawan dua dan aku tak cukup kuat melawan mereka. Mereka berusaha menyeret karung itu sambil berlari. Hampir saja aku menangkap mereka. Karena karung sudah ada di tanganku. Tetapi sudah terlanjur, anak-anak nakal itu mengambil Coklat Ekspresi sebanyak yang mereka inginkan.
“Akhirnya kita bisa makan coklat terenak di dunia sepuasnya!” kata anak yang gemuk.
“Benar-benar hari yang menyenangkan! Bisa ke luar kelas diam-diam dan mendapat coklat gratis,” tawa anak yang bertubuh lebih tinggi.
“Mari makan!” seru mereka bersama.
Baru satu gigitan, mereka berdua sudah memuntahkan Coklat Ekspresi itu.
“Hueeek! Coklat terenak di dunia tapi rasanya seperti lada?” kata anak yang lebih tinggi.
“Bukan! Ini lebih seperti kotoran telinga?” kata anak yang gemuk.
“Mengapa jadi begini? Kita sudah ditipu!” seru anak yang lebih tinggi lagi.
Aku datang menghampiri mereka dan berkata sambil tertawa,
“Resep dari Coklat Ekspresi adalah perasaanmu ditambah dengan sikapmu, dan itulah yang akan terasa di lidahmu. Jangan berharap rasa yang enak jika perasaaan dan sikapmu tidak baik.”