Senin, 28 November 2016

pahlawan kampung


“Mengapa tidak belajar?” Tanya Ibu kepada Rofa. “Bentar, lagi asyik nonton nih” jawab Rofa sambil asyik melihat televisi. Ya Rofa adalah anak yang cukup pemalas, hari harinya hanya bermain dan menonton televisi. Rofa berlari sambil menghirup udara segar di desanya itu, ya desa itu memang jarang terlewati kendaraan.
“Hei sedang apa kalian?” ternyata Rofa sudah sampai di lapangan. Teman teman Rofa terdiam karena sedang asyik membuat layangan. “AAAAA” ada sebuah teriakan dari sebuah rumah berwarna hijau, Ternyata itu adalah rumah teman Rofa yang bernama Rio. Mereka berlari ke arah rumah itu “ada apa bun?”. “Ada kucing mengambil ayam goreng yang bunda buatkan”. Memang kampung tersebut banyak sekali binatang yang suka mencuri makanan. Teman teman Rofa tidak terlalu menghiraukan dan kembali ke lapangan. Namun Rofa penasaran dan mengikuti kucing itu.
Ia mengikutinya hingga memasuki hutan, hutan tersebut sangat gelap. Tiba tiba dia sampai di sebuah gua, kucing itu memasuki gua tersebut. Dengan sedikit takut, Rofa memasuki gua tersebut. Ternyata banyak sekali binatang yang keluar masuk gua tersebut, Membuat Rofa semakin penasaran. Akhirnya dia melihat seorang lelaki tua gendut yang menghipnotis dan menyuruh binatang mencuri makanan dari kampungnya. Dia ingin melawan namun takut. Akhirnya dia memilih ke luar dari gua tersebut, Awalnya dia ingin memberi tau Teman temannya namun ternyata hari sudah mulai gelap. Dia pun pulang dan akan memberi tau teman temannya esok hari.
Esok pun tiba, Seperti biasa dia mandi, Sarapan dan sekolah. Sepulang sekolah dia menyuruh teman temannya berkumpul di lapangan. Mereka pun kumpul di lapangan, “ada apa Rofa” tanya Akbar sambil mengusap ngusap kucing. Akhirnya Rofa memberi tahu semua yang ia lihat, Namun teman temannya tidak ada yang percaya. “Begini saja, Kalian pulang dan bawa katapel dengan batu, Dan kita kumpul lagi disini” ucap Rofa. Akhirnya teman temannya mengiyakan permintaan rofa.
Rofa pun pulang dan mencari katapelnya. “Untuk apa katapel itu?”. Tanya Ibu kepada Rofa. “Untuk main Bu” jawab Rofa. Sang ibu pun tidak mengizinkan karena menurutnya katapel dan batu itu cukup berbahaya. Rofa pun terdiam dan tak tau akan melakukan apa. Tiba tiba sang Ayah yang sedari tadi mendengarkan sambil membaca koran, Berkata “sudahlah Rofa kan anak laki laki izinkan saja dia”. Sang ibu yang awalnya tidak mengizinkan akhirnya mengizinkan. Rofa pun cepat cepat ke lapangan karena takut teman temannya menunggu. Ternyata benar teman temannya sudah menunggu. “Kukira kau berbohong dan kabur” ucap Fathan dengan nada sedikit kesal. “Mana mungkin aku berbohong, Sudah cepat ikuti aku”. Mereka pun berjalan memasuki hutan. Mereka akhirnya sampai dia depan gua tersebut, Semakin banyak binatang yang keluar masuk gua. Akhirnya teman temannya mulai percaya. Mereka memasuki gua. Mereka pun membuat rencana untuk menangkap lelaki tua tersebut. Rencana mereka pun gagal, Mereka akhirnya bersembunyi di balik batu besar. “Rencana kita selanjutnya apa?” Tanya Akbar kepada Rofa.
Belum sempat menjawab tiba tiba ada seorang lelaki mendekati mereka. Mereka kira itu sang lelaki tua, Namun ternyata itu adalah seorang lelaki tampan lengkap dengan pedang dan perisai.
“Hei apa yang kalian lakukan disini” bisik sang lelaki tampan. “Kami ingin menangkap lelaki tua yang menghipnotis binatang” jawab Rio.
Ternyata setelah berbicara lebih lanjut, Sang lelaki adalah seorang pangeran dari sebuah kerajaan. Dia juga ingin menangkap lelaki tua gendut yang teryata seorang penyihir, Yang mencuri ilmu itu dari Pamannya. Dia diutus oleh Ayahnya untuk menangkap sang penyihir. Mereka pun bekerja sama untuk menangkapnya.
Akhirnya sang penyihir ditangkap dan diikat di pohon dekat gua. “Panggilkan seluruh penduduk kampung agar mereka tahu siapa yang mengambil makanan mereka”. Rofa, Rio, Fathan dan akbar pun memanggil seluruh penduduk. “Ya, Seperti yang kalian lihat, Dialah yang telah mencuri makanan dari kampung Kalian, namun kalian tidak usah menghiraukannya dia sudah ditangkap dan akan dikurung di kerajaanku. Atas nama Kerajaan Sihir saya meminta maaf” ucap sang Pangeran. “Dan jika kalian ingin berterima kasih, Berterima kasih lah kepada anak anak ini, Karena merekalah yang telah membantu saya menangkap sang penyihir”. Akhirnya penduduk kampung berterima kasih kepada Rofa dan temannya. Sang Ibu bangga, Karena dibalik sifat pemalas anaknya ada juga sifat kepahlawanannya. Akhirnya Rofa dan temannya disebut sebagai PAHLAWAN KAMPUNG.

perjuangan sang semut

Namaku Joe si semut pemberani. Semut semut membuat sebuah kelompok dan mereka akan berperang dengan kelompok lain untuk membuat suatu daerah kekuasaan. Mungkin kelompok kami bisa dibilang kelompok terlemah, karena kami tidak memiliki satu pun daerah kekuasaan.
Saat itu kami sedang tidur karena sudah larut malam, namun tiba tiba ketua kami berteriak dan meyuruh kami untuk merebut daerah kekuasaan dari kelompok Azza. “Mungkin jika kita merebut pada malam hari kita bisa menang” ucap ketua kami dengan penuh semangat. Nama kelompok kami adalah kelompok Sin. Nama ketua kami adalah Dr Garko.
Semua semut sudah bersiap untuk berperang, kami pun mulai menyerang. Perang pun selesai, seperti biasa kelompok kami kalah. Namun yang lebih menyedihkan adalah ketua kami yaitu Dr Garko meninggal dunia. Kami pun beberapa hari tanpa ketua namun akhirnya kami mencari ketua baru. Awalnya anak Dr Garko yaitu Lars akan menjadi ketua namun dia menolak karena dia rasa dia tidak cocok menjadi ketua. Lalu Kami menunjuk Gora si semut cerdik untuk menjadi ketua namun tidak jadi karena Gora sudah terlalu tua. Akhirnya aku pun ditunjuk menjadi ketua dengan penuh percaya dari aku berkata “Baik mulai dari sekarang aku ketua dari kelompok ini”.
Hari pun mulai gelap seperti biasa semua semut berkumpul untuk tidur. Sebelum tidur aku mencari kubangan untuk minum namun tiba tiba aku bertemu dua semut yang sudah sangaat tua. “Dunia semut butuh perdamaian” ucap semut ke satu. “Kami percaya kau bisa membuat semua damai” ucap semut kedua. Aku bingung dan hendak bertanya, namun sebelum aku mengeluarkan suara mereka berdua batuk keras dan meninggal dunia. Akhirnya aku memiliki tekad untuk membuat dunia semut menjadi damai.
Keesokan harinya aku berpidato dan membicarakan sebuah kedamaian. Semua semut menolak, aku pun dikeluarkan dari kelompok. Namun ternyata beberapa semut setuju denganku dan membantuku untuk mendamaikan dunia semut.
Kami berjalan sangat jauh dan tiba tiba seekor belalang menyerang kami. Karena sudah biasa berperang sang belalang pun kami lumpuhkan. Sang belalang berkata “sebenernya aku tidak ingin menyerang kalian, namun aku kesal kepada semut yang selalu berperang. Aku sangat ingin kedamaian”. Akhirnya dia menjadi pengikutku dan kami dibawa terbang oleh sang belalang. Namun bukannya pergi untuk mendamaikan dunia semut dia malah membawa kami ke sarangnya yang penuh dengan belalang lainnya. Kami sudah pasrah dengan semua ini, tiba tiba banyak sekali semut yang datang. Mereka akhirnya menangkap semua belalang. Ternyata mereka adalah kelompokku dulu yaitu kelompok Sin.
“Kami salah telah mengeluarkanmu. Ternyata kau benar dunia semut butuh perdamaian”. Akhirnya kami bersama sama mencari perdamaian.
Ternyata semua semut dalam kelompok lain berpikiran sama dengan pikiranku. Namun mereka takut untuk berkata “perdamaian” jadi mereka tidak pernah mencari perdamaian. Akhirnya semua semut berdamai. Dan sejak saat itulah aku dibuatkan patung lengkap dengan tulisan PERJUANGAN SEMUT dalam mencari perdamaian.
Tamat

monic


“Monic, kau diadopsi!” teriak Rara dari ambang pintu.
Kata-kata itu seperti menyihirku. “Jangan diam! Cepat temui orangtua barumu!” kata Rara riang. Aku mengangguk.
Aku berlari menemui orangtua baruku di ruang tamu. “Itu dia!” kata Bunda Ana ibuku di panti, pada orangtua baruku. Ibu dan ayah baruku berlari dan memelukku hangat. Kehangatan ini… sudah lama aku tak merasakannya.
“Ayo pulang!” ajak ayah baruku ramah. Aku mengangguk mantap dan segera membereskan barang-barangku. Bunda Ana dan ibu baruku juga membantuku. Aku berpamitan pada teman-teman di panti asuhan.
“Monic, ternyata kau sependiam ini. Tapi, tak apa. Kita tetap akan jadi keluarga yang harmonis! Jangan pernah sungkan meminta apapun dari kami!” kata ibu dalam mobil.
“Besok kamu masuk sekolah, itu pun kalau kamu mau. Kami mendaftarkanmu ke SMP Gionoka yang terkenal itu. Agak jauh dari rumah, memang. Tapi itu salah satu sekolah terbaik disini. Kau mau kan sekolah disana?” tanya ayah. Aku mulai berpikir, SMP Gionoka? Aku bahkan tak pernah berpikir menginjakkan selangkah kaki disana. Dari dulu SMP itu sangat bagus, namun biayanya tetap sepadan. Senangnya aku bisa masuk SMP begitu! Aku pun mengangguk. “Baguslah, ayah kira kau akan menolaknya.”
“Kita sampai,” kata ayah sambil mengerem mobil. Kami berhenti di sebuah rumah modern tapi menawan. Ayah membuka pintu mobil untukku, “Selamat datang di rumah!”
Aku dipersilahkan masuk dan segera menata barang-barang di rumah ini.
Beberapa bulan berlalu. Aku lalui hari-hariku seperti biasa, kadang pula ada perasaan ingin kembali ke panti.
“Monic, bisa kamu lepaskan boneka itu? Kamu sudah SMP tapi kamu selalu membawa boneka kemana saja bahkan ke sekolah,” untuk berpuluh-puluh kalinya aku mendengar ocehan ibuku.
“Aku akan kesepian kalau jauh darinya.”
Plak, beberapa surat mendarat di meja belajarku, “Sekolah mengirimimu surat yang sama,” kata ayah.
“Monic, pikirkan lagi! Sekolah lebih penting dari sekedar boneka!”
“Aku sudah bilang, dia bukan sekedar boneka! Dia temanku!”
“Lebih baik kamu tidur!” kata ibu lalu mencium pipiku dan ke luar bersama ayah.
Aku mengangkat Milly, boneka beruang pinkku. “Milly! Kau mau lakukan sesuatu untukku? Kesenanganku disini sudah habis. Huft! Aku kangen taman-teman di panti! Kau juga kan? Ah sudahlah aku mau tidur. Malam Milly!” Aku pun segera berbaring dan tertidur.
“Monic ayo bangun!” panggil ibu. “Monic cepat bangun!” “Monic!”
“Iya!” jawabku. Kenapa hari ini ibu berisik lagi? Pasti karena kerjaan! Pasti tak ada yang mengantarku sekolah dan itu artinya aku harus naik taksi lagi. Batinku.
Aku ke luar dari kamarku dan aku lihat kedua orangtuaku sudah siap berangkat.
“Maaf ya hari Minggu, tapi ibu membangunkanmu sepagi ini!” kata ibu. Aku hanya mengangguk dengan mata yang sipit. Oiya sekarang Minggu! Aku lupa ya! Pikirku.
“Monic, setelah ini kamu kesini!” kata ibu memberiku secarik kertas. Apartemen? Apartemen siapa? Pikirku.
“Itu apartemenmu untuk sementara waktu!” kata ayah dan memberikan sebuah kunci.
“Kemarin hari terakhirmu di SMP Gionoka! Mulai besok kamu homeschooling di apartemen!” kata ibu dan tersenyum, “Itu yang kamu mau kan? Lagipula kami ada urusan ke luar kota jadi tak bisa mencarikanmu sekolah baru. Maaf ya. Kami berangkat dulu!” ayah dan ibu meninggalkanku.
Yah… sekarang hari Minggu! Aku malas ke luar rumah! Kenapa juga harus homeschooling di apartemen kalau bisa di rumah? Tapi biarlah jika begini jadinya!
Aku pun segera bersiap-siap dan menuju tempat yang tertulis di kertas.
Cklek! Aku membuka pintu apartemen.
“Akhirnya sampai juga!” Aku menjatuhkan diri ke kasur. Perjalanannya lama sekali.
“Milly terima kasih kau melakukannya lagi untukku! Orangtuaku kali ini terlalu mengatur-ngatur. Aku ingin orangtua yang lebih baik dan kehidupan yang lebih tenang!”
“Huuuft… aku juga lelah disana. SMP Gionoka tampak luar lebih baik dari dalamnya. Mereka ternyata hanya memuja nama. Orang luar pasti tak akan tau sisi dalam sekolah itu!”
“Karena aku sudah bekerja keras mengatur semuanya dan membuatmu senang, sekarang giliran kau yang membuatku senang! Ayo kembali ke panti! Monic!” kata Milly.
“Haaah!!!! Lalu buat apa kita jauh-jauh kesini?!” aku kesal dan melempar Milly ke lantai.
“Aduuuu!! Monic mau aku lempar juga?”
“Jangan!!!” teriakku. “Nanti malah kau lempar ke luar jendela lantai 7 ini”
“Hehehe… kau tau ya!”
Semua orang tak akan percaya dan tak akan mau percaya bahwa Milly bukan sekedar boneka. Dia adalah temanku. Temanku sejak lahir. Dia adalah sebuah roh penjaga yang dimasukkan ke dalam tubuh boneka oleh orangtua kandungku untuk menjagaku dan membuatku senang. Dia bisa mengubah keadaan dengan caranya yang misterius.

hysteria

Ayah kau telah berhasil mengubahku sekarang derita adalah bahagiaku dan bahagiaku adalah derita. Terimakasih untuk itu, kau benar selama hidup aku akan selalu mendapat cobaan dan cobaan selalu mendatangkan derita. Kau selalu menyiksaku dengan tang yang kau gunakan untuk mencabut gigiku, bor yang kau gunakan untuk melubangi tubuhku, pisau yang kau sayatkan pada tubuhku, dan alat-alat menakjubkan lainnya yang kau dedikasikan untukku.
Aku sangat sayang padamu namun aku butuh derita yang lebih untuk bahagia. Alat-alatmu tak lagi memberiku derita aku sudah terbiasa dengannya. Aku sangat sayang padamu tapi aku lebih membutuhkan derita untuk bahagia maka dari itu aku membunuhmu sekarang agar aku dapat derita. Ayah lihatlah ini air mata yang mengalir di mataku kehilanganmu benar-benar membuat hatiku sakit. Oops! Maaf ayah aku lupa kau tidak bisa melihat lagi aku menusuk kedua matamu dengan jariku, baiklah coba kau rasakan air mataku dengan jari terakhirmu bukankah air mata ini begitu indah. Aku akan memakanmu sebagai rasa terimakasihku kau akan hidup di dalam diriku.
Sekarang aku akan berpetualang mencari deritaku sendiri semoga kau menyaksikannya dengan kedua mataku. Apa ini ayah? Dunia luar begitu berbeda dengan di dalam rumah tak ada tang disini, tak ada bor disini, tak ada pisau disini bagaimana bisa aku mendapatkan derita kalau begini. Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan? Ooohhh… maafkan aku ayah aku lupa yang kau ajarkan. Bahkan jika tak ada alat untuk membuatku menderita aku dapat melakukannya tanpa alat. Baiklah aku akan mulai membenturkan kepalaku pada tiang itu walaupun tak sesakit saat kehilanganmu hal itu cukup untuk membuatku menderita sampai aku menemukan derita yang lebih menyakitkan dari kehilanganmu.
“Eh? Apa ini? Kenapa kalian menghalangiku? Aku ingin membenturkan kepalaku ke tiang? Lepaskan! Lepaskan! Aku butuh derita Lepaskan…!”
“Apa ini? kepalaku terasa sangat sakit seperti di pukul dari belakang. Dimana aku? Kenapa aku diikat? Lepaskan! Lepaskan!”
“Hai kau sudah sadar?”
“Kau siapa tolong lepaskan aku, aku butuh derita”
“Apa yang kau bicarakan? kenapa kau butuh derita? Kau di rumah sakit jiwa sekarang dan aku sedang merawatmu. Tadi kau dibawa oleh seseorang dalam keadaan pingsan”
“Apa yang kau lakukan? Jangan rawat aku jangan rawat aku! Pergi sana! Pe… Pe…!”
“Dok! Dok! Tolong pasien ini kejang-kejang”
Ada apa ini ayah? Apakah tubuhku rusak? Mereka bergerak sendiri tanpa perintah dariku. Jantungku berdetak cepat karena perawat itu menyentuh keningku dan semua jadi kacau. Apakah ini yang disebut bahagia? Aku sangat senang hal ini membuatku sangat kesal. kenapa wanita itu malah merawatku dan merusak tubuhku?. Ayah ada seorang laki-laki datang dari balik pintu dengan sebuah suntikan yang dipegangnya sepertinya dia akan menyelamatkanku.
“Hei kau sudah bangun rupanya tepat sekali sekarang saatnya kamu makan. Karena tanganmu masih terikat biar aku suapi”
“Ada apa denganmu kenapa kau baik padaku? Pergi sana yang aku butuh adalah derita”
“Ngomong apa sih kamu? Akukan perawat ya sudah tugasku untuk merawat pasien sepertimu walaupun aku masih baru tapi aku bakal berusaha buat ngerawat kamu”
“Tolong jangan rawat aku. kamu buat aku bahagia aku gak mau kehilangan kendali tubuhku lagi. Tolong kamu pergi dari sini”
“Kamu jujur banget sih. Masasih aku bikin kamu bahagia? Nih Aaa…”
“Tolong jangan! aku gak mau makan, gini aja. tolong kamu pukul piring yang kamu pegang ke kepalaku sekeras mungkin”
“Gak mungkin lah aku ngelakuin itu kan udah aku bilang tugasku merawat kamu. Kamu harus makan biar bisa minum obat”
“Tolong jangan rawat aku. Kalau kamu gak bisa pukul piring itu ke kepalaku kamu pergi aja dari sini”
“kamu mau aku pergi tapi aku gak mau pergi sampai kamu minum obat. Eeemmm… gini aja kamu makan dulu tiga suap terus kamu minum obatnya abis itu aku pergi. Kalau gak gitu aku gak mau pergi aku mau disini sampai kamu minum obat”
“Ya udah deh kalau gitu cepetan aja”
Ayah teorimu salah dalam hidup tidak selamanya derita yang kudapat. Perawat itu selalu datang padaku tiga kali tiap harinya membuatku bahagia dan sedikit kejang. Aku bahkan berkali-kali mengusirnya tapi dia selalu datang lagi dan lagi. Aku selalu meminta derita kepadanya tapi dia tak pernah memberikannya terakhir kali aku mencuri garpu dan menusukkannya ke tanganku itu membuatku menderita karena sakit tapi itu hanya sesaat setelahnya bahagia yang kudapat malah lebih besar. Perawat itu tak henti-hentinya berada di sampingku ia selalu menemaniku jika ada waktu hal itu membuatku bingung dan pikiranku menjadi kacau.
Aku sudah tak tahan lagi dengan perawat itu dia selalu membuatku bahagia aku akan melakukan sesuatu padanya ketika aku sudah terlepas dari ikatan ini. Tunggu dulu apa ini? Aku baru sadar kalau setiap kali dokter itu datang pipi perawat itu memerah dan terasa sakit di bagian atas perutku dan sakit itu bertambah ketika perawat itu bicara dengan dokter. Benar-benar rasa sakit yang sempurna apa ini aku tak pernah merasakannya. Apakah ini yang di sebut cemburu? Kau benar yah ternyata rasa cemburu memberikanku rasa sakit yang sempurna lebih dari rasa sakit yang kau berikan. Aku punya ide aku akan menyatukan perawat itu dengan dokter dengan begitu mungkin aku akan merasakan sakit yang sebenarnya.
Air mataku tak henti-hentinya mengalir seluruh tubuhku terasa sakit. Aku bahagia! Aku bahagia! Ini sangat sempurna. Hasil jerih payahku menyatukan perawat dan dokter hingga mereka menikah benar-benar terbayar lunas. Rasa sakit ini tak bisa digambarkan dengan kata-kata tapi bisa dilihat dari air mataku yang mengalir deras. Apakah kau merasakannya ayah? Aku benar-benar bahagia. Mungkin ini adalah puncak dari rasa sakit, derita yang sempurna.
Salah! ternyata aku salah total! derita yang sempurna bukanlah ketika perawat itu menikah tapi ketika dia memiliki anak. Lihat itu ayah mereka membawa anak perempuannya ke sini, lihat anak perempuan itu ia melambai ke arahku, Lihat itu anak perempuannya memiliki mata yang sama dengan ayahnya. Lihat itu! Lihat itu! Mereka sangat bahagia! Sakit sekali! Sakit sekallliii…! Ini terlalu sakit! Ini terlalu bahagia! Aku tak tahan! Tolong hentikan! Tolong hentikan! Aku tak tahan lagi! Aku harus mengakhirinya! Aku akan menyusulmu ayah.

hidup itu

Hidup itu ibarat ikan yang hidup di kolam. Ikan yang paling besar dan paling berwarnalah yang akan dilirik.
“Wah, Jessica itu perfect ya. Sudah cantik, pintar, jago main voli, ceria dan murah senyum! Gak ada cacatnya deh!”
“Iya! Dia bagaikan mawar di antara rumput berduri! Paling indah dan menawan!”
“Eh, tahu gosip terbaru? Jessica pacaran sama dia! Perfect banget ya, dia kan sekertaris OSIS, jago main biola, kapten klub tenis…”
Ikan kecil hanya akan menjadi penyemarak kolam, hanya akan dilirik jika berada di sekeliling ikan besar tersebut.
“Wah Vanessa, nilaimu lebih tinggi dari Jessica! Sela..”
“Hei lihat! Vanessa dapat nilai 98! Sedikit lagi lho Jess..”
“Oh tapi ada yang mendapat 100 lho! Itu Vanessa!”
“Oh? Si kutu buku? Gak heran kacamatanya tambah tebal”
“Orang seperti dia gak ada yang bisa dibanggakan selain otak encer!”
Ketika pembagian makanan pun, hanya ikan besarlah yang menguasai. Ikan kecil akan dipaksa pergi, dan berharap tuannya akan melempar makanan ke arahnya.
“Apa kau tahu? Sebanarnya Vanessa lho yang dipilih menjadi perwakilan sekolah kita di kompetisi minggu lalu!”
“Terus kenapa malah jadi Jessica? Kan lebih jago Vanessa dalam bermain gitar”
“Nah itu dia masalahnya! Backing Jessica kan kuat, pasti karena pacarnya sekertaris OSIS!”
“Salah salah. Tahu kan fansclub Jessica? Katanya sih mereka yang mem-bully Vanessa sampai Vanessa gak mau ikut lagi!”
“Yang benar? Keterlaluan! Mereka pikir Jessica dewi yang jatuh dari surga apa? Sampai sebegitunya.”
“Aku tak mempersalahkan Jessica, hanya saja fansclub itu selalu membuat masalah! Kasihan kan Vanessa..”
Tapi apa sang tuan akan memberikannya? Jika iya pun apa benar sang ikan kecil yang akan memakannya, bukan ikan-ikan besar itu?
“Hei kutu buku! Masih belum menyerah ya?”
“Iya nih. Sudah kubilang penampilan lebih penting dari otak! Kau kan tak bisa berbicara di depan umum!”
“Iya, jangan terlalu banyak berharap deh! Jessica kan lebih baik darimu, dia pasti menang!”
Kertas pidato Vanessa dibuang ke tempat sampah dengan santainya. Mungkin mereka tidak tahu betapa berharapnya Vanessa pada lomba kali ini. Vanessa menunduk, tapi mendongak kembali karena rambut panjangnya yang dikepang ditarik.
“Orang sepertimu terlalu freak! Kami benci orang sepertimu”
Orang-orang yang tergabung dalam Jessica’s fansclub itu pergi sambil tertawa sinis nan menjijikan. Puas karena berhasil membully Vanessa untuk ke- ah sudah terlalu banyak untuk dihitung dan senang karena berhasil menyingkirkan sang freak –menurut mereka-.
Harusnya mereka bersyukur masih bisa tertawa dengan begitu puasnya. Mereka tidak menyadari senyuman Vanessa yang terasa dingin dan mengerikan..
Cukup sudah.
Tapi bagaimana kalau ikan kecil tersebut adalah ikan arwana? Cantik nan mematikan, predator yang memangsa ikan lainnya bahkan ikan sejenisnya.
“Akh!”
Vanessa menatap datar pemandangan di hadapannya. Dia menendang salah satu tubuh yang bergerak sedikit sampai akhirnya tidak bergerak lagi. Orang-orang yang selalu menganggap dirinya rendah kini sudah tiada, mati bahasa kasarnya meninggal bahasa halusnya.
“Sekali sampah, mau dipoles bagaimana pun tetaplah sampah.”
Vanessa melepas kacamata tebalnya, matanya memang minus tapi dia memakai lensa kotak. Penampilan serba rapinya berganti menjadi dandanan modis dengan aksen cukup seksi sehingga orang yang menggangap Vanessa cupu dan freak akan memotong lidahnya saking menyesalnya.
‘Persetan dengan taruhan itu!’
Vanessa berjalan malas sambil menyeret kapak berlumuran darahnya. Pikirannya melayang pada kejadian satu tahun yang lalu, dimana dia pertama kali menantang Vanessa menjadi seorang kutu buku. Jika dia tahan tidak melakukan apapun pada orang yang membully-nya selama 3 tahun, dia akan diterima kembali di rumah.
‘Apa-apaan dia? Ini sudah batasku! Apa dia..’
“Tak pernah memikirkan hal seperti ini akan terjadi?”
Seorang laki-laki berjalan mendekati Vanessa santai. Vanessa yang baru saja hendak menyerang siapa pun orang yang menyapanya, mengendurkan kesiagaannya tatkala matanya menatap wajah laki-laki tersebut. Laki-laki tersebut tersenyum, namun Vanessa tahu bahwa dia tak seramah yang semua orang pikirkan.
‘Pas sekali, baru mencacinya orangnya muncul.’
“Senior, tidakkah hadiahku yang paling bagus?”
Sangat kentara perkataan Vanessa dengan nada sinis. Namun bila didengarkan baik-baik terdapat sisipan penuh harap di dalamnya. Sang senior hanya berjalan mendekati salah satu korban –atau bahasa kasarnya sampah- itu dengan tenang.
“Kau tidak menghancurkan kepalanya.”
Satu kalimat yang dikenali sebagai suatu pujian. Sang senior bukan tipe orang yang suka memuji, itulah yang membuat Vanessa menghembuskan nafas lega dan malas.
“Pertaruhan kita batal, oke?”
“Terserah, aku juga sudah capek menyamar terus.”
Sang senior mengambil kapak dari tangan Vanessa lalu melemparnya. Dipeluknya Vanessa erat.
“Ada apa ini? Kau menjadi lebih melankolis dari sebelumnya.”
“Diam atau kutebas lehermu”
“Kau berani?”
Vanessa terdiam. Dia masih seperti dulu.
“Akan lebih baik jika aku yang membunuhmu lebih dulu.”
Atau tidak. Dia bahkan berani mengambil tindakan sekarang.
Tawa sang senior pecah, Vanessa hanya menatapnya kesal.
“Oh ayolah, aku sudah membolehkanmu pulang kok. Tapi bersihkan dirimu dulu, oke?”

cerita tak berujung

Pada suatu malam yang sunyi. Suasana sepi senyap di bumi. Tak ada sama sekali penerangan yang diterapkan. Di hutan yang gelap, hiduplah seorang manusia. Ia kerap disapa dengan sebutan “Hiroshima” Manusia setengah laki-laki dan perempuan berketurunan Jepang. Walau begitu, yang tampak hanyalah wajah berkulit sawo matang khas Indonesia. Tak usah dihiraukan, kini Ia sedang berjalan seorang diri di hutan tersebut. Hutan yang sangat terkenal… Terkenal keangkerannya. Hiroshima terlahir sebagai manusia berjenis kelamin laki-laki yang bersifat feminin. Maka dari itu, para makhluk yang hidup di hutan angker tersebut menjulukinya sebagai ‘Manusia Setengah Jenis Kelamin’ Hohoho, tampaknya itu lucu bagi sebagian orang.
Di hutan yang megah dan angker ini, terdapat beberapa makhluk yang ramah dan begitu pula sebaliknya. Tuan ular dan nyonya panda adalah sesosok makhluk yang ramah dengan Hiroshima. Mereka sering bermain air di sungai yang terdapat di tepi hutan. Sungai Lee Min Hoo namanya. Berbeda dengan Tuan Singa dan Tuan Bayang Bayang Monster. Mereka tak bekerja sama, namun entah kebetulan atau apa. Mereka mempunyai beberapa target yang tak bisa Saya sebutkan. Oh ya, Tuan Singa dan Tuan Bayang Bayang Monster mempunyai latar belakang yang berbeda. Mereka tak pernah bertemu sama sekali, dan saling tak tahu bahwa sama-sama mempunyai target.
“Heeyy… Apa kabar Ta?” teriak Hiroshima lhe-bhay menghampiri Tuan Ular yang bernama Santan dengan gaya khasnya. Berjalan dengan anggun di malam hari.
“Mama, Aku lelah tak usah kau ganggu Aku,” ternyata, Tuan Ular sedang mengantuk berat. Sedangkan nyonya panda, tertidur pulas di sebelah Tuan Ular.
“Hmm,” Hiroshima tampak berpikir keras,
“Bolehkah sehari saja Kau tak mengangguku, besok Kau bisa kemari, Mama Cantik,”
“Huuhh, ini pilihan yang berat. Baiklah jika begitu Tata sayang,”
“Sudahlah, Aku ini laki-laki, Kau itu banci. Tak usah lhe-bhay,”
Hiroshima yang sering dipanggiil dengan sebutan Mama itu, akhirnya dengan berat hati meninggalkan Santan dan Bambu (Tuan Panda). Saat berjalan dengan kesedihan yang mendalam, Hiroshima merasakan keganjilan. Keganjilan yang menurutnya tak biasa. Hiroshima menatap timur barat selatan utara. Tak ada seseorang yang ada, ataupun makhluk. Karena, Hiroshima manusia satu-satunya yang tersisa di hutan “The Kill” yang dibaca de-kil. Tak heran mengapa hutan itu agak sedikit jorok dan angker. Namanya saja dekil atau the-kill. Sebenarnya, banyak manusia yang ada di hutan ini. Namun, semuanya tewas menggenaskan karena makhluk yang menggenaskan pula. Seperti harimau, namun Ia telah tewas juga dimakan Tuan Singa.
Terdengar teriakan kencang dari belakang. Hiroshima mempercepat langkah dan segera berlari di antara gelap dan sunyinya malam. Namun, ternyata auman yang berasal dari Tuan Singa itu tak terdengar lagi. Hiroshima berkeringat dingin. Hiroshima menghela napas kencang dan lelah. Biasanya, jam ini Hiroshima sudah tertidur nyenyak. Namun, tidak dengan akhir-akhir ini. Ada keganjilan yang ada, begitu seterusnya mungkin saja. Itu pun hanya mungkin. Kini, bukan auman Tuan Singa yang terdengar. Melainkan suara-suara aneh bernada tinggi.
Hiroshima tersesat! Ia tak tau jalan menuju rumah Santan dan Bambu. Sahabat-sahabat satu-satunya. Ia telah berlari terlalu jauh. Sebagai manusia, Hiroshima telah kehausan dan kantuk pun menyerang. Sungai Lee Min Hoo terlihat dari kejauhan. Sungai berwarna keabu-abuan. Hiroshima segera melirik arlojinya, pukul 89.87. Ahh seharusnya dari pukul 80.00 Aku sudah tidur, gumam Hiroshima dalam hati. Hiroshima berlari menuju sungai angker itu. Ia meminum seember air darah abu-abu yang sedap sekali. Hmm, yummy…
Selang berapa waktu, dengan bantuan GPS yang ada di arloji ajaib Hiroshima, Ia telah sampai menuju rumahnya. Pondok coklat tua kecil berukuran 3×4 meter. Bayangkan betapa kecilnya pondok itu. Namun, lagi-lagi keganjilan itu muncul. Terasa ada makhluk halus mendekati Hiroshima. Karena Hiroshima tak mempunyai indra ke-enam. Ia tak bisa melihat makhluk itu. Arloji menuliskan sesuatu yang tentu saja dapat dibaca oleh Hiroshima.
“Arwah Monster?” gumam Hiroshima pelan. Ya, Arwah Monster itu adalah Bayang-Bayang Monster. Ia pasti merasuki Hiroshima. Karna, setiap Arwah atau Bayang-Bayang Monster mendekati sesosok makhluk. Makhluk itu secara pasti, pasti dirasukinya. Dan ternyata benar, jiwa Hiroshima telah diambil oleh Sang Arwah Monster.
Kini, Sang Arwah Monster telah berubah menjadi Monster berelemen tulisan dan tanah. Ia bisa menyerang apapun dengan teror tulisan yang pasti berhasil. Sama dengan Hiroshima, ya itu adalah kekuatan Hiroshima yang sebenarnya.
“Ahh, tolong Aku, di mana Hiroshima. KATAKAN!” selain tulisan, kekuatan Monster sebenarnya adalah tanah atau bisa dibilang gempa. Teriakan Santan menggema di seluruh hutan. Namun, tak ada yang dapat mendengarkannya karena di hutan hanya tersisa Santan dan Bambu. Santan dan Bambu kini telah mati. Dan saatnya Monster keluar dari hutan untuk menguasai bumi.
Semua makhluk hidup dan makhluk mati telah hancur berkeping-keping tak tersisa di bumi. Bumi kini telah hancur, dan hanyalah Monster yang tersisa sendirian. Lalu, Monster membangun bumi ke-dua. Semua tampak sama seperti bumi pertama, lebih tepatnya hutan angker itu. Lengkap dengan para makhluk hidup dan masih indah seperti dulu. Monster yang tak senang karena para makhluk di bumi kesal, Mereka ingin melawan Monster. Oh ya, makhluk yang ada di bumi ke-dua adalah makhluk ke-dua namanya (Sesuai nama masing-masing). Sama seperti Hiroshima, karena Ia telah mati dan bangkit kembali. Namanya kini adalah Hiroshima ke-dua dan selanjutnya.
Monster menghancurkan bumi ke-dua kembali dengan kekuatan teror tulisan dan kekuatan tanahnya. Semua makhluk hidup dan makhluk mati telah hancur berkeping-keping tak tersisa di bumi ke-dua. Bumi ke-dua kini telah hancur, dan sama seperti bumi pertama hanyalah Monster yang tersisa sendirian. Lalu, Monster membangun bumi ke-tiga. Semua tampak sama seperti bumi pertama dan kedua, lebih tepatnya hutan angker itu yang bernama “The Kill” Dan semua telah lengkap dengan para makhluk hidup dan masih indah seperti dulu. Monster yang tak senang karena para makhluk di bumi kesal. Mereka ingin melawan Monster, sebab Monster telah membunuh mereka. Mereka ingin membalas dendam atas kematian mereka di bumi pertama dan bumi ke-dua. Oh ya, makhluk yang ada di bumi ke-tiga adalah makhluk ke-tiga namanya (Sesuai nama masing-masing). Sama seperti Hiroshima, karena Ia telah mati dan bangkit kembali. Namanya kini adalah Hiroshima ke-tiga dan selanjutnya.
Peristiwa Monster dan bumi telah mendapati umur ke-… Terus berjalan, sampai kini pada tahun 7896. Yahh, peristiwa itu tak akan pernah berhenti sampai kapanpun. Itulah yang dinamakan cerita tak berujung. Maaf penulis tak langsung menuliskan topik. Oh ya, target Sang Tuan Singa Dan Arwah Monster atau Bayang Bayang Monster yang kini menjadi Monster adalah… Jreng… Jreng… Jreng… Ialah, menguasai bumi dan membunuh semua makhluk hidup serta makhluk mati yang ada di bumi. Dan kini, telah terbukti. Para pembaca tahu sendiri kan? Tahu apa? Itu lhoo pemenang perlombaan. Lho? Sudahlah jangan dihiraukan. So, and the winner is… Monster… Prok prok prok :v

telor ceplok

“Hai, bintik telur putih.”
“Iya, ada apa, bintik telur kuning?”
“Apa kau tahu bagaimana telur ceplok yang kita tinggali ini ‘termasak’ ?”
“Ya, ‘Ibu’ yang memasak kita kan? Kita ‘termasak’ di ‘Dapur Ibu’ ”
“Ibu? Ayolah, teori ‘Keibuan’ itu sudah kuno. Apa kau belum membaca penelitian ilmuwan bintik telur baru-baru ini?”
“Yang mana?”
“Bahwa telur ceplok ini tercipta dari ketiadaan. Nothing, then comes everything, bahwa sesungguhnya kita ‘termasak’ dari 1 telur saja. 1 Telur yang massanya terus bertambah, hingga meledak, dan terciptalah ‘Telur Ceplok’ yang kita tinggali. Putih telur, kuning telur, garam, merica, minyak, protein, lemak. Kita semua tercipta dari satu unsur yang sama, telur. Telur yang meledak.”
“Bagaimana kau bisa yakin? Mana buktinya?”
“Kau bisa baca sendiri di buku para ilmuwan! Ini adalah teori yang paling relevan! Kita hidup dengan sains, dan sains tidak pernah berbohong. ‘Teori Keibuan’ hanya teori yang dibuat oleh kita, ‘bintik telur’! Dulu kaum bintik telur masih sangat lemah, jadi kita berharap ada sesosok ‘Ibu’ yang ‘Maha Segalanya’, yang melindungi kita.
Ibu itu tidak ada, ia hanya sesosok makhluk yang kita ciptakan di benak kita, bukan sebaliknya!”
“Wah, kau begitu yakin.”
“Ya, aku selalu yakin dengan ilmu pengetahuan. Kita harus maju, Bintik Telur Putih. Kalau kita terus berkutat pada kepercayaan adanya Ibu, itu malah menghambat kita sendiri untuk maju.”
“Tunggu, ilmu pengetahuan?”
“..Ya”
“Yang kau maksud dengan ilmu pengetahuan, apakah cuma dengan menyalin apa yang ilmuwan bintik telur katakan?”
“… Apa maksudmu?”
“Maksudku, kau bisa berbicara seperti tadi itu hanya salinan dari apa yang mereka katakan, bukan?”
“Ya… Karena memang itu kebenarannya!”
“Apa kau sudah berpikir? Ikut serta berpikir?”
“Ya.. pastinya! Aku sudah berpikir, dan menyetujui tidak ada kesalahan dalam teori itu.”
“Well, aku rasa ada sesuatu yang mengganjal.”
“… Apa? Teori ini yang paling relevan dan terbaru!”
“Ya, ya, aku tahu. Tapi… Bagaimana telur itu bisa tidak stabil?”
“Ya… memang tidak stabil. Lalu meledak.”
“Kalaupun itu meledak, kita misalkan telur itu meledak 100 tahun yang lalu. Dari awal, PALING AWAL, telur itu sudah tidak stabil kan?”
“Ya.”
“Lalu kenapa telur itu tidak meledak 100 tahun sebelumnya? Atau 1000 tahun sebelumnya? Atau 10 abad sebelumnya? Kenapa saat itu, 100 tahun yang lalu yang kita asumsikan, baru meledak?”
“Maksudmu?”
“Maksudku, lihatlah sekitarmu. Minyak di dunia ini tidak terlalu banyak. Garam-garam bisa tersebar di seluruh tempat di telur ceplok secara merata. Begitu juga dengan merica. Lalu suhu disini juga panas, membuat kita tidak cepat membusuk.”
“Hey, keseimbangan yang kau bicarakan itu tercipta bersama ledakan si telur!”
“Bila telur ini tercipta atas ketidaksengajaan, bagaimana semua keseimbangan bisa tercipta? Pasti ada ‘Sang Juru Masak’ yang menyebarkan garam dan merica, menaikkan suhu panci, dan membuat kita hidup. Percaya pada keseimbangan, tapi tidak memercayai adanya ‘Ibu’, menurutku hal konyol.”
“Apa maksudmu sih?!”
“Telur tadi. Telur yang meledak. Tidak mungkin telur itu awalnya tidak stabil, karena ia bisa meledak kapan saja. Pasti telur itu awalnya stabil. Lalu ‘Ibu’-lah yang membuatnya tidak stabil. Ia yang ‘menceplokkan’ telur itu, lalu menyebarkan garam dan merica. Sehingga terciptalah ‘telur ceplok’.”
“… Itu tidak masuk akal.”
“Kenapa tidak? Karena aku tidak memiliki gelar di bidang sains?”
“Pemikiranmu aneh! Mana ada ‘Ibu’! Mana ada ‘Sang Juru Masak’! Otakmu telah tercemar, kau tidak bisa menerima ilmu pengetahuan lagi. Kau harus membuka pikiranmu, Bintik Telur Putih!”
Sementara mereka berdebat, Ibu meletakkan telur ceplok tersebut ke piring, dan memberikannya ke anaknya.